Menyoal Poligami dan Akhwat

Disclaimer:

Tulisan ini mungkin akan terlihat sensitif dan dianggap sebagai kampanye hitam saat menjelang pemilu. Well, it’s not. Tulisan ini gue bikin karena gue pengen tahu soal poligami dan keingin tahuan gue soal kenapa “kalangan PKS” seperti akrab dengan poligami ini. Jadi, silahkan baca dulu hingga selesai

________________________________________________

Banyak orang termasuk gue yang memandang negatif poligami, bahkan di twitter beberapa minggu kemaren lagi rame sama hashtag #TolakPartaiPoligami, dalam 5 Panduan Memilih Caleg Bersih yang dibuat oleh akun @Bersih2014, poin pertamanya menyebutkan “Tidak memilih caleg yang melanggar HAM, Melakukan Korupsi, Berpoligami, Merusak Lingkungan, Berpihak Pada Buruh Murah, Anti Toleransi & Setuju dengan cara-cara kekerasan”.

Enggak dulu, enggak sekarang, melakukan Poligami adalah salah! paling enggak persepsi itulah yang tampaknya “sengaja” dibangun.

gue jadi mikir, kok kaya enggak ada yang bener soal Poligami ini, kalo emang enggak bener, lalu kenapa Rasulullah kasih contoh?

Membaca Ulang Lagi Soal Poligami

Eh bentar, gue baru tau ternyata ada tiga istilah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terkait Poligami ini, ketiganya yaitu:

poligami /po·li·ga·mi/ n sistem perkawinan yg salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dl waktu yg bersamaan;

poligini /po·li·gi·ni/ n sistem perkawinan yg membolehkan seorang pria memiliki beberapa wanita sbg istrinya dl waktu yg bersamaan

poliandri /po·li·an·dri/ n sistem perkawinan yg membolehkan seorang wanita mempunyai suami lebih dr satu orang dl waktu yg bersamaan

Kalo merujuk definisi KBBI diatas, kayanya istilah yang lebih pas menggambarkan seorang pria memiliki istri lebih dari satu POLIGINI yah? kalo elo cermat, pada definisi Poligami tidak sebutakan kata istri atau suami, hanya mengawini.

ah, au ah gelap..biar kita sama-sama paham, gue pake istilah Poligami aja yak, yang udah terlanjur terkenal dan umum digunakan.

okeh..seperti yang kita tahu Islam jelas mengenal praktek poligami, selain dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, juga tercantum didalam Al-Quran surat An-Nisa dibawah ini:

Al-Quran surat Al-Nisa’ [4]: 3 menyatakan,

 

    Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap

perempuan-perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya),

maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi:

dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu khawatir tidak

dapat berlaku adil (dalam hal-hal yang bersifat

lahiriah jika mengawini lebih dari satu), maka

kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu

miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak

berbuat aniaya.

Al-Quran surat Al-Nisa’  [4]:  129  menegaskan  juga

bahwa,

 

    Kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di

antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin

berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu

cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu

biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu

mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari

kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun

lagi Maha Penyayang.

 

Beberapa alasan umum yang sering kita denger adalah soal Poligami yang merupakan sunnah rasul, dan menjalankan sunnah rasul adalah sebuah pahala, bahkan memang disarankan untuk dilakukan.

Jika merujuk pada definisi, sunnah rasul menurut para ahli hadits adalah semua yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik ucapan, perbuatan maupun respon beliau.

Faktanya, Nabi Muhammad memang pernah memiliki istri lebih dari satu pada satu waktu.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah menikah dengan satu istri bukan sunnah rasul?

Gue mencoba membaca kembali beberapa bahan bacaan soal ini, well, lewat google sih sama beberapa buku yang gue punya.

Ada fakta menarik dibalik pernikahan nabi dengan banyak istri tersebut:

Nabi Muhammad SAW menikah pada usia 25 tahun dengan seorang janda yang berusia 40 tahun, namanya Siti Khadijah. Nabi menikah dengan Siti Khadijah seorang selama 25 tahun, itu berarti Nabi tidak melakukan Poligami selama menikah dengan Siti Khadijah.

Siti Khadijah sendiri wafat pada usia 65 tahun, yang berarti saat itu Nabi Muhammad SAW berusia kurang lebih 50 tahun.

Tidak berselang lama setelah meninggalnya Siti Khadijah, Nabi Muhammad SAW menikah kembali, kali ini dengan (1) Saudah Binti Zam’ah, seorang janda beranak 12 yang saat itu berusia 70 tahun. Salah satu tujuan Nabi menikahi Saudah adalah untuk menyelamatkannya dari kekafiran akibat menjanda. Saat itu keluarga Saudah masih kafir dan dikhawatirkan akan memengaruhi kembali Saudah jika tidak diselamatkan keimanannya.

Enggak lama setelah menikah Saudah Rasulullah mendapat perintah dari allah SWT untuk menikahi (2) Zainab binti Jahsy, seorang janda berusia 45 tahun yang berasal dari keluarga terhormat. Pernikahan dengan Zainab ini merupakan suatu pelaksanaan perintah Allah SWT bahwa pernikahan haruslah sekufu.

Setelah menikahi Saudah dan Zainab, Rasulullah kembali mendapat perintah Allah SWT agar menikahi puteri dari bibinya yang pandai mengajar dan juga pandai berpidato. (3) Ummu Salamah binti Abu Umayyah, seorang janda berusia 62 tahun.

Kemudian, berturut-turut nabi menikah kembali dengan beberapa orang istri, yaitu:

(4) Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan, seorang janda berusia 47 tahun

(5) Juwairiyyah binti Al-Haritz Al-Khuzaiyyah, seorang janda berusia 65 tahun dengan 17 anak. Perempuan ini merupakan budak dan tawanan perang yang dibebaskan Rasulullah.

setahun setelahnya, saat Rasul berusia 58 tahun, beliau menikah kembali dengan (6) Shafiyyah binti Hayyi Akhtab, seorang janda dua kali yang berusia 53 tahun dan memiliki 10 orang anak.

(7) Maimunah binti Al-Harits, seorang janda berusia 63 tahun yang berasal dari kabilah Yahudi Bani Kinanah

(8) Zainab binti Khuzaimah bin Harits, seorang janda berusia 50 tahun yang dermawan dan memiliki banyak anak yatim untuk diasuhnya.

(9) Mariyah Al-Kibtiyyah, seorang gadis yang berusia 25 tahun, alasan Nabi  menikahinya adalah untuk memerdekakan Maiyah dan menjaga iman Islamnya, Mariyah sendiri adalah seorang budak.
(10) Hafshah binti Umar bin Khatab, seorang janda yang telah berusia 35 tahun

(11) Aisyah binti Abu Bakar, merupakan seorang perempuan muda yang cantik, cerdas, dan penuh izzah. Allah SWT memerintahkan langsung kepada Rasululah SAW agar menikahi gadis ini. Pernikahan Rasululah dengan Aisyah r. A. Merupakan perintah langsung Allah SWT kepada Rasulullah SAW lewat mimpi yang sama tiga malam berturut-turut (Hadits Bukhari Muslim).

(sumber: http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/rasulullah-baru-poligami-di-usia-51-tahun-tamat.htm#.Uy8DzxYWTC8)

Dari fakta diatas, tergambar bahwa Nabi baru melakukan praktek Poligami pada usia sekitar 50-51 tahun, usia dimana mungkin nafsu seksualnya sudah tidak menggebu-gebu layaknya remaja puber.

Kalo elo baca link sumber tadi, itu jelas banget alasan nabi melakukan poligami, apakah itu menyelamatkan keimanan seseorang atau menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga si janda yang anaknya buanyak banget itu.

Sementara, seperti yang sering kita tahu, beberapa politisi atau artis, melakukan poligami dengan seorang gadis cantik, entah dengan alasan apa.

Dari semua cerita soal pernikahan Nabi tersebut, ada fakta menarik yang perlu elo tahu.

  1. Nabi menikah HANYA dengan Siti Khadijah selama 25 tahun, saat usia nabi 25-50 tahun. Ini berarti Nabi melakukan monogami, artinya monogami juga merupakan sunnah rasul.
  2. Nabi melakukan poligami saat usianya sekitar 50-51 tahun, usia dimana mungkin nafsu seksual sudah tidak sebesar saat muda.
  3. Nabi melakukan poligami HANYA selama 13 tahun dalam kehidupannya, seperti yang kita tahu, Nabi meninggal saat berusia 63 tahun.

nah, coba elo bandingkan..dalam masa hidupnya, Nabi melakukan monogami (menikah dengan satu istri) selama 25 tahun, dan menikah dengan banyak istri hanya selama 13 tahun. Itu artinya sunnah rasul untuk menikah dengan satu istri lebih lama dibanding dengan poligami.

Tapi, Poligami boleh kan?

Ya boleh, tapi kan ada syarat dan ketentuannya.

Gini deh, Cahyadi Takariawan dalam bukunya yang berjudul “Bahagia Diri Dengan Satu Istri” bilang begini soal apakah poligami boleh atau tidak.

“Bukan hanya karena boleh, lalu semua kita lakukan. Kalau anda bertanya, bolehkah seorang lelaki keluar rumah tanpa mengenakan pakaian bagian atas, dan hanya mengenakan celana yang menutup pusar hingga lututnya?, jawaban fiqihnya adalah boleh”. Lalu, apakah karena boleh – dan sesuai syariat (gue tambahin) – lalu Anda pergi ke mal, supermarket, tempat kerja atau ke masjid hanya dengan pakaian seperti itu?” – Cahyadi Takariawan

Jadi, bukan cuma sekedar boleh kan? ada hal-hal yang harus dijadikan pertimbangan.  Misalnya lagi, kita semua tahu bahwa batas aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajahnya, lalu, kenapa enggak ada yang pake Mukena ke mal dan tempat kerja? bukankah pake mukena sudah sesuai dengan syariat? meski boleh oleh Agama, toh hampir enggak ada perempuan yang menggunakan mukena ke tempat kerja atau ke pasar.

Tapi menurut ayatnya emang boleh kan mat? gue ga paham soal tafsir, jadi ini gue kutip pendapatnya pak Quraish Shihab aja:

Al-Quran surat Al-Nisa’ [4]: 3 menyatakan,

Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi:     dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil (dalam hal-hal yang bersifat lahiriah jika mengawini lebih dari satu), maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

“bukan hanya Islam yang pertama kali membolehkan poligami. Dalam kitab perjanjian lama, Nabi Daud mempunyai banyak isteri. Baiklah, kalau kita membuka lembaran Al Quran, persoalan poligami disebut dalam Surat Annisa(4) : 3, disana Allah berfirman “Kalau kamu khawatir, tidak berlaku adil terhadap anak-anak yatim maka kawinilah selain anak2 yatim itu, perempuan2 yang kamu sukai, dua-dua, tiga-tiga, atau empat-empat. Tetapi kalau kamu khawatir tidak berlaku adil maka cukup satu.” Kita lihat, ayat itu turun karena ada orang-orang yang sedang memelihara anak-anak yatim yang kebetulan anak-anak yatim itu cantik, masih muda dan punya harta. Mereka ingin mengawini anak-anak yatim itu, atau juga ingin mendapatkan hartanya namun dengan tidak ingin membayar maharnya yang sesuai. Itu namanya mereka tidak berlaku adil. Karena itu, Tuhan melarang para pengasuh anak yatim ini, “Kamu harus berlaku adil, kalaupun kamu ingin mengawininya lantas tidak berlaku adil, maka kawinilah perempuan yang lain, karena anak-anak yatim itu lemah.” Ayahnya sudah meninggal sehingga tidak ada yg membela dia, tetapi kalau perempuan yang lain, mereka masih punya orang tua yang bisa membela dia dan sebagainya.” – Quraish Shihab (http://www.muslim-menjawab.com/2009/05/apa-pendapat-ustadz-quraish-shihab.html)

Tuh, konteks ayatnya jelas kan..soal menikahi anak yatim yang lemah, dan Allah seakan-akan menantang, kalo elo berani menikah dengan banyak istri, ya nikahin dong yang masih punya orang tua dan setara, jangan anak yatim yang miskin. Allah juga kasih peringatan, kalo elo ga bisa berlaku adil, ya udah sih nikahin satu orang aja.

Jadi, sampai sini harusnya sih kita udah paham, bukan Poligami-nya yang salah, konsep Poligami yang dianjurkan Al-Quran dan dicontohkan oleh Nabi enggak salah, bahkan benar dan menjadi sebuah solusi. Bayangkan, dari 11 istri Nabi, 9 adalah janda-janda tua dengan banyak anak, dan hanya 2 yang gadis, pun itu ketika usia Nabi sudah sangat tua.

Gimana dengan contoh-contoh yang ada di Indonesia?

#TolakPartaiPoligami

Gue ga bisa enggak membahas soal ini. Iya, soal PKS. Menurut gue, PKS adalah fenomena yang menarik.

Gue harus sebut kalangan PKS, karena gue ga bisa menemukan kata yang tepat untuk menyebut model dakwah dan pangkaderan yang mereka lakukan lewat pengajian-pengajian rutinnya. Meski pengajian-pengajian itu enggak membahas politik, tapi emang murni dakwah untuk memantapkan pemahamannya tentang Islam. Dan enggak bisa dipungkiri, pemahaman dari Ikhwanul Muslimin emang semacam diadopsi oleh kalangan ini.

Dibanding partai lain, gue harus bilang bahwa hanya PKS lah yang punya sistem pengkaderan yang rapih.

Sistem pengkaderannya dimulai sejak SMP-SMA, pendekatannya bukan partai, tapi dakwah agama, buat temen-teman yang pernah ikut ROHIS, pasti paham. ROHIS SMP-SMU umumnya didominasi sama pembimbing dari Mahasiswa/i, yang umumnya tergabung dalam KAMMI atau LDK (Lembaga Dakwah Kampus).

Orang-orang yang ikutan ROHIS dan aktif dalam pengajiannya pun akan “dijaga” terus hingga ke jenjang yang lebih tinggi. SMP-SMA tergabung dalam ROHIS, pas masuk Universitas biasanya gabung sama LDK atau KAMMI, pas keluar Universitas tetap terjalin dalam pengajian-pengajian Liqo hingga akhirnya akan “diarahkan” untuk menjadi kader partai.

Pemahamannya soal Islam, dijaga sedemikian rupa. Termasuk soal Poligami.

Zaman gue kuliah, gue juga lumayan aktif di LDK, punya banyak teman-teman yang tergabung dalam KAMMI (meski gue HMI). Jadi sedikit banyak, gue paham bagaimana pola mereka, yang hampir enggak berubah. Jika yang diatas bilang A, maka bisa dijamin kebawahnya juga akan bilang A. Tapi gue ga mau bahas soal politiknya, gue mau bahas sedikit soal Poligami ini.

Gue emang sengaja membeli dan membaca buku “Bahagiakan Diri dengan Satu Istri” yang ditulis sama Cahyadi Takariawan. Beliau sering dipanggil Pak Cah, buat yang belum tahu, Pak Cah ini adalah salah seorang inisiator dan saat ini duduk sebagai salah satu anggota Majelis Syuro PKS. Majelis Syuro adalah institusi tertinggi dalam jajaran PKS, kira-kira semacam Dewan Penasihat.

Kenapa gue memilih buku ini? well, karena sepenglihatan gue, para akhwat-ikhwan PKS ini sangat cukup akrab soal Poligami, bahkan tampaknya para akhwat-nya sangat ikhlas jika suaminya berpoligami. Gue penasaran, apa sebenarnya yang melatarbelakangi mereka bisa begitu?

Oh satu hal lagi, buku ini cukup seru di kalangan internal PKS, karena membuat para ikhwan-nya gelisah, dan membuat para akhwat-nya diam-diam tersenyum. Apalagi yang menulis adalah salah satu petinggi partai dan seorang ustadz yang disegani.

Anyway, ini beberapa kesimpulan yang gue ambil soal Poligami dan PKS berdasarkan informasi yang ada di bukunya Pak Cah:

  1. Poligami sepertinya hal yang sangat lumrah di kalangan PKS, ini tergambar dalam tulisannya Pak Cah, beberapa kali menuliskan bercandaan soal Poligami dikalangan ikhwan, yang tentu ditanggapi dingin oleh Pak Cah yang sampai saat ini hanya menikah dengan satu istri.
  2. Soal Poligami emang dibahas tuntas di pengajian-pengajian dikalangan mereka, jadi boleh dibilang, para akhwat-ikhwan ini khatam lah kalo ditanya soal Poligami. Karena tetap manusia biasa, tentu ada yang udah siap dan belum siap melakukan poligami.
  3. Pak Cah menuliskan kalimat yang ciamik menurut gue, dan tampaknya sedikit banyak menggambarkan perasaan para akhwat yang suaminya memiliki istri lebih dari satu.

“….tentang tangis tak terdengar di kesunyian malam; tentang luka hati yang tak terobatkan; tentang arogansi dan kesewenangan; tentang senyum yang dipaksakan; tentang kelembutan yang tak didapatkan; tentang kehangatan yang semakin menghilang”

  1. 4. Poligami tampaknya semacam tingkatan yang “harus” dilalui sebagai bagian dari “perjuangan” kenaikan level dalam pemahaman ke-islam-an. Dalam beberapa blog para akhwat, mereka bahkan menganggapnya sebagai sebuah solusi untuk tetap menjaga dakwah dan perjuangan organisasi.

Setelah membaca buku ini kemudian gue mencoba cari tahu soal Poligami di kalangan para akhwat PKS ini. Dari beberapa blog yang berhasil gue temukan dan baca, isinya cukup bikin gue tercengang, kagum, kaget, bingung, campur aduklah. Dalam tingkatan keilmuan soal Islam gue yang masih cetek ini, gue belum bisa memahaminya sih.

Berikut gue coba ringkaskan isi dari beberapa blog para akhwat PKS ini, silahkan baca sendiri:

  1. Soal poligami yang “dianggap” menjadi solusi di kalangan akhwat-ikhwan PKS, bisa baca http://pks-lotim.blogspot.com/2013/04/poligami-di-mata-akhwat-pks.html
  2. Soal model dakwah yang dilakukan PKS, bisa baca inihttp://zehanachda.wordpress.com/2013/02/15/kenapa-saya-mau-jadi-kader-pks/
  3. Soal rencana seorang akhwat yang akan dijadikan istri kedua, namun akhirnya tidak jadi, bisa baca inihttp://gugundesign.wordpress.com/2011/01/20/izinkan-aku-jadi-bagian-cinta-suamimu-kisah-nyata-poligami-2/

Saat itu juga ku mantapkan niatku untuk mengakhiri semuanya. Walau sedikit terlambat! Ternyata Ubaid tidak pernah menyatakan niatnya menikahiku kepada istrinya, dia berencana melakukannya diam-diam. Dan dia juga tidak pernahmemberitahuku bahwa istrinya mengidap depresi berat. Singkat kata, aku menyiakan 1,5 tahun usiaku untuk menunggu seseorang yang tak layak kutunggu!

  1. Pandangan seorang akhwat soal keikhlasan berpoligami, agar tujuan pernikahannya tercapai, bisa baca ini http://novawira-mygreen.blogspot.com/2012/01/ketika-ia-minta-izin-poligami.html
  2. Pandangan seorang akhwat soal poligami, ini menurut gue mewakili pandangan umum para akhwat PKS soal poligami, silahkan baca http://mujahidah-farma.blogspot.com/2008/10/siap-dipoligami-mit.html
  3. Pandangan akhwat bahwa poligami itu indah jika sesuai dengan contoh Nabi. Di blognya beliau menulis begini, “Ayo bagi suami yang mampu berlaku Adil segera poligami; Ayo bagi para akhwat dan Ummahat harus siap dipoligami untuk memberikan peluang bagi akhwat-akhwat yang belum menikah dan janda-janda yang ditinggal syahid suaminya”. Lengkapnya silahkan baca http://am-ma.abatasa.co.id/post/detail/23902/::-indahnya-poligami::.html
  4. Soal keteguhan hati dan mengikuti syariat serta memupuk keikhlasan bila poligami harus terjadi, bisa bacahttp://www.firman-its.com/2008/11/17/aku-dan-poligami/
  5. Soal menikah yang tampaknya lebih baik sesama kelompok mereka saja, sebagai bagian dari melanjutkan dan mempertahankan dakwah, bisa bacahttp://silvianasalsabilla.wordpress.com/2013/05/28/cerita-ditengah-penantian/

gimana komen elo setelah baca blog-blog itu?

Akhir Kata

Poligami jelas memang boleh menurut agama, tapi ada syarat dan ketentuan yang harus diikuti.

Gue pribadi tidak mengharamkan Poligami, karena Al-Quran dan Rasulullah sudah memberikan contoh. Masalahnya, apakah Poligami yang dilakukan sudah sesuai Al-Quran dan Rasul? Gue ingat apa yang dibilang Pak Quraish Shihab, jangan mengharamkan yang halal, dan jangan menghalalkan yang haram. Poligami jelas tidak haram.

Sementara ini gue bisa paham kenapa para akhwat dan ikhwan di kalangan PKS cukup akrab dan mau menjalankan Poligami ini. Tampaknya memang bagian dari cara mereka untuk menjadi bagian dari solusi sosial (banyak para akhwat yang berumur namun belum menikah) dan cara untuk menyebarluaskan serta menjaga dakwah tarbiyah.

Anis Matta menikah pertama kali pada 1992, dan menikah kembali pada 2006. Itu berarti baru 14 tahun menikah secara monogami, dan melakukan poligami saat berusia 38 tahun (Anis Matta lahir pada 7 Des 1968), dari pernikahan pertama dikaruniai 7 orang anak, dari istri kedua dikaruniai 3 orang anak. Jelas, dalam pemahaman gue, soal keturunan bukan jadi alasan beliau melakukan poligami.

Luthfi Hasan Ishak menikah pertama kali pada 1984, menikah kembali dengan istri keduanya pada 2000, lalu yang terakhir dia menikah dengan Darin pada Juni 2012. Luthfi baru melakukan monogami selama 16 tahun, lalu melakukan poligami saat usianya 39 tahun (Luthfi Hasan lahir pada 5 Agustus 1961).

Mobil aja masih nyicil, jadi gue sih sadar diri dah, ga sanggup punya istri dua 😀

Wallahu A’lam Bishawab

bahan bacaan:

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/rasulullah-baru-poligami-di-usia-51-tahun-tamat.htm#.Uy8DzxYWTC8

http://www.muslim-menjawab.com/2009/05/apa-pendapat-ustadz-quraish-shihab.html

http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Nikah2.html

http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2013/01/14/2397/tafsir-ayat-ayat-poligami.html

http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Nikah2.html

http://www.muslim-menjawab.com/2009/05/apa-pendapat-ustadz-quraish-shihab.html

http://www.masuk-islam.com/inilah-12-nama-nama-istri-nabi-muhammad-lengkap.html

http://books.google.co.id/books?id=gFJ2jqndruQC&pg=PA357&lpg=PA357&dq=usia+nabi+ketika+siti+khadijah+wafat&source=bl&ots=D7NVpfswyf&sig=dknn7YvzlijhB1epWnhb4OyvfHQ&hl=en&sa=X&ei=avYuU5CaIcjpiAfK_YHwCA&ved=0CGUQ6AEwBg#v=onepage&q=usia%20nabi%20ketika%20siti%20khadijah%20wafat&f=false

http://www.konsultasisyariah.com/sejarah-nabi-muhamad-istri-istri-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/06/20/ln36pq-wanitawanita-terkemuka-saudah-binti-zamah-wanita-yang-gemar-sedekah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *