Saya AyahASI, dan Saya Merayakan World Breastfeeding Week

Hari ini adalah hari terakhir World Breastfeeding Week atau Pekan Menyusui Sedunia. Iyah, Week disini sebenarnya berarti Pekan, bukan Minggu. Meskipun saya AyahASI yang memberi dukungan agar istri saya menyusui anak-anak kami (Anak ke-1 menyusui hingga 2.2 tahun, anak ke-2 masih menyusui dan saat ini umurnya 8 bulan), saya memilih untuk merayakannya. Saya bahkan membuat infografis soal ASI dan Menyusui selama 7 hari berturut-turut untuk @ID_AyahASI, dan menyebut puluhan kali “perayaan” ini di akun social media. Meski baru kali ini saya menyebutnya di blog pribadi

Karena buat saya, hal ini berguna untuk memberikan informasi soal ASI dan Menyusui. Saya dan istri pernah mengalami kesulitan dalam hal menyusui, pun begitu dengan para pendiri AyahASI. Itu kenapa kami membuat buku Catatan AyahASI dan mendirikan @ID_AyahASI, agar cukup kami saja yang mengalami kesulitan atau kegagalan dalam hal pemberian ASI, orang lain jangan sampe gagal. Iyah, saya memang bangga mengalami kesulitan soal ASI dan Menyusui dan kemudian berhasil melewatinya. Justru itu, saya ingin mengajak semua ibu-ibu untuk tidak gagal dan agar berhasil memberikan ASI untuk anaknya. Saya dan teman-teman @ID_AyahASI justru ingin merangkul ibu-ibu yang belum bisa memberikan ASI untuk belajar lagi soal ASI dan Menyusui agar bisa membantu teman-teman, tetangga bahkan familinya.

Pertama, bagi sebagian orang memberi ASI adalah perjuangan yang luar biasa. Perjuangan ini levelnya berbeda-beda.

Ada yang merasa perjuangan adalah begadang semalaman untuk menyusui. Sebenarnya enggak perlu begadang semalaman, ajak dong suami untuk membantu ketika memberikan ASI dimalam hari. Jika ibu merasa harus beristirahat, perah ASI, lalu minta suami untuk memberikan ASIP ketika anak kita terbangun dimalam hari. Disinilah dukungan AyahASI penting. Iyah betul, ini kan anak berdua, bukan anak si ibu aja. Jangan biarkan istri kita berjuang sendirian bung! Jangan!

Ada yang merasa perjuangan adalah puting digigit berulang kali sampai berdarah-darah. Ini sebenarnya bisa dihindari dengan beberapa tips dan trik yang sudah sering dibagi di akun @ID_AyahASI atau @aimi_asi. Menyusui itu harus menyenangkan, jika ada kesulitan atau merasa sakit, itu tandanya kita harus bertanya dan mencari informasi.

Ada yang harus makan sayur setiap hari baru ASI bisa deras keluar. Sebentar, kenapa makan sayur setiap hari harus dianggap perjuangan? Bukankah makan sayur itu sehat? Pemerintah kita aja kesulitan mempromosikan Pedoman Gizi Seimbang, masa ketika ada ibu menyusui yang mau makan sayur dianggap kegiatan yang menyusahkan? Ini juga mitos yang tampaknya ada sejak zaman Saur Sepuh, makan sayur dianggap bisa membuat ASI deras keluar. Nope! Makan sayur enggak ada hubungannya sama ASI deras keluar. Ibu menyusui cukup makan dengan porsi semampunya dengan pedoman gizi seimbang. Prinsipnya, nikmati dan batasi.

Ada yang harus minum susu setiap hari. Gini..andaikan semua orang yang peduli soal ASI dan Menyusui mau merayakan Pekan ASI Sedunia dengan informasi yang penting, mungkin kita bisa bilangin ke ibu menyusui bahwa ENGGAK HARUS minum susu setiap hari. Sayang ada juga yang enggak mau merayakannya, lalu diam.

Ada yang shopping setiap hari. Wait, WHAT? Sis..shopping is in their blood. Masa shopping biar ASI lancar juga dianggap menyulitkan? Kalo enggak shopping kan kasihan abang tukang sayur enggak ada yang beli.

Saya memang perlu merayakan semua hal tentang ASI dan Menyusui di World Breastfeeding Week. Ada juga teman-teman yang men-download sertifikat lulus ASI dan memamerkannya di social media. Atau ada juga yang menulis tentang tidak merayakan World Breastfeeding Week lalu memamerkannya di blog. Wait! Jadi sebenarnya merayakan World Breastfeeding Week dong, meski dari sudut pandang yang berbeda? anyway…

Pertanyaanya adalah? apakah semua upload foto soal ASI dan Menyusui lalu dianggap pamer? Lalu gimana dengan ibu hamil yang perutnya menonjol keluar? dianggap pamer? lalu harus menutupinya agar ibu-ibu yang belum bisa hamil terjaga perasaannya?

ya kan enggak begini juga kaaan…ya kan? ya ga sih? | kalau memang mau ngasih tau orang, kan bisa tulisannya dibuat positif gitu..

ya kalo pikirannya udah negatif ya susah juga sih…ini sama dengan orang yang enggak membolehkan ada pisau di rumah karena pisau bisa membunuh orang.

“Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”.

Nah kan ngaku..gini loh, kita justru mau mengajak agar tidak mudah menghakimi orang lain. Seorang Ibu enggak bisa disebut gagal menyusui,kenapa? karena menyusui dan memberikan ASI bukan tugas seorang ibu saja, menyusui dan memberikan ASI adalah tugas semua orang. Iyah, kita dan kamu harus mendukung seorang ibu untuk bisa berhasil menyusui. Bukan men-judge! Ga boleh itu. Kalo ada ibu yang belum berhasil menyusui, itu berarti kita dan kamu juga belum berhasil mendukung si ibu untuk berhasil. Ya salah kita juga! Kenapa diam? kenapa enggak membantu? kenapa enggak merayakan?

“Secara biologis ya memang ASI itu natural. Tapi ada faktor-faktor pemicu lain yang membuat seorang ibu gagal memberi ASI. Seperti support system dan kondisi psikologis.” Betul, saya setuju..justru saya dan teman-teman semua mengajak semua orang untuk membentuk supporting system yang baik bagi ibu menyusui. Bukan dengan memperlebar jarak dan menganggap ada 2 kubu yang berseberangan: IBU YANG PAMER vs IBU YANG DIHAKIMI.

Coba deh pola pikirnya diubah biar agak positif sedikit gitu, kaya gini: IBU BISA MENYUSUI vs IBU YANG HARUS DIBANTU.

“Support system yang baik di mana suami mendukung pemberian ASI, orangtua dan mertua mendukung pemberian ASI, kantor yang menyediakan ruang pompa ASI, komunitas yang merangkul dan memberi semangat untuk tetap memberi ASI.” – nah betul, tuh paham.

“Sementara faktor kondisi psikologis ini cukup tricky. Di satu sisi ibu harus bahagia agar ASI mengalir deras, tapi di sisi lain saat ASI nya berkurang, ibu langsung merasa down, stres, susah untuk bahagia. Padahal stres membuat ASI semakin berkurang.” – betul, ini bisa diatasi dengan Supporting System yang mba sebutin tadi, justru jangan dianggap kaya enggak bisa diatasi dan kok kayanya dianggap perjuangan ibu sendiri. Kalo ASI nya lagi berkurang, teman kantor kan bisa kasih dukungan positif misalnya, “ih segitu banyak loh, nanti pas pompa lagi aku temenin yah, biar lebih seru”. Gitu, jangan malah dipanas-panasin, entar kalo malah memilih enggak mau perah lalu gimana? karena menganggap enggak bisa diatasi? hayooo loh..

“Menurut saya pamer sertifikat dan pamer jumlah stok ASI perah hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan membuat ibu yang “gagal” menyusui semakin stres, semakin tidak bisa memberi ASI. Dan yang diberi sertifikat adalah bayinya. Make sense kah?” – Ini kalo pikirannya negatif yah..kalo pikirannya positif akan seperti ini “Ih si Annis keren banget udah ada sertifikat ASI dan stok ASInya banyak, aku mau ah belajar sama dia, mau diskusi sama dia biar aku juga banyak..aku mau minta dia untuk dukung aku ah” Nah, kalo pikiran positif seperti ini justru akan semakin menghilangkan kecemburuan social dan membuat ibu yang “gagal” menyusui menjadi bangkit dan berhasil menyusui.

Iyah…masa ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”ih kalian ini malah jalan-jalan, jaga dong perasaan orang yang lagi jatuh, ga bisa berdiri tuh..ini kalian malah pamer pake sepatu baru dan jeans baru”.

Sementara disisi lain ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”aku udah berhasil kasih ASI dan punya stok banyak..aku mau ah bantuin si Annis biar kaya aku..aku nanti kasih tau dia ah poto-poto aku menyusui..pokoknya aku pengen semua orang kaya aku, berhasil kasih ASI.”

Gituu..keliatan kan bedanya orang yang bikin panas sesuatu sama yang bikin adem?

“Untuk yang senang pamer kulkas berisi ratusan botol ASI perah, tahukah ada kondisi bernama hiperlaktasi di mana seorang ibu berlebihan memproduksi ASI? Ibu hiperlaktasi ini biasanya punya cadangan ASI perah berkulkas-kulkas karena ASI yang dia produksi lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi.” – Begini..hiperlaktasi ini sebuah kondisi khusus yang positif,iyah betul..saya sebut kondisi khusus karena memang enggak semua ibu bisa seperti ini. Beberapa alasan hiperlaktasi adalah karena Alveoli yang banyak atau ada ketidakseimbangan hormon.

Jadi gini, kalo ada ibu yang punya stok ratusan botol ASI perah dikulkas itu bukan karena si ibu Hiperlaktasi..itu karena si ibu rutin memerah ASI. Jangan dianggap begini: “ih dia kan punya banyak stok ASI karena hiperlaktasi, aku kan enggak..sombong banget sih pamer-pamer foto”. Bukan gitu..boleh sih meng-kritik, tapi yang membangun sedikit dengan informasi dan data yang bener juga boleh kok. Produksi ASI itu prinsipnya sederhana, semakin sering ASI dikeluarkan, maka produksi ASI akan semakin cepat. Betul, itu bisa diatur, kita yang atur…bukan hiperlaktasi. Kita yang harus kasih informasi yang bener biar si ibu bisa memerah ASI dengan rutin.

Kedua, menurut saya ASI itu rezeki. Kalau rezeki tentu tidak sama bagi setiap orang dong.

Oh betul..ASI memang berbeda setiap orang, bahkan setiap hari aja kandungan ASI berbeda. Banyaknya ASI juga bisa berbeda, karena tergantung pada kebutuhan si bayi. Bayi A cuma butuh sedikit disbanding dengan Bayi B, yah ga apa-apa, memang segitu kebutuhannya.

“Sejak hamil, saya sendiri selalu menanamkan pola pikir rezeki ini. Bahwa saya akan bersyukur sekali kalau Tuhan melancarkan rezeki saya melalui ASI. Kalau pun ASI saya tidak keluar, saya berdoa agar diberi rezeki dalam bentuk lain karena susu formula kan mahal.” – Boleh ya enggak sependapat kan..lagian kan ini juga blog pribadi saya. Begini, saya beranggapan bahwa semua yang gratis dari Tuhan itu butuh usaha dari manusia. Contohnya begini..

Cinta itu gratis..tapi kita perlu usaha bertahun-tahun untuk mendapatkan jodoh? kalo diam saja kan juga enggak bisa. Tuhan justru pengen kita berusaha. ASI juga begitu, gratis dari Tuhan..tapi payudara perlu mendapat rangsangan, ibu perlu didukung agar pemberian ASI lancar ke bayi.

“Karena kalau pun ASI saya tidak lancar, masa mau menyalahkan Tuhan kan?” – Ya tentu enggak. Saya sih menyalahkan orang yang enggak mau bantuin nyebarin informasi penting di kala Pekan ASI Sedunia. Ada yang butuh bantuan, tapi enggak dibantu. Kan Kasihan. Kamu ih…

“Jadi memberi ASI ada yang memang sukses tanpa usaha,..” – oh mana adaaaa, coba tanya semua ibu menyusui…tanya apakah ada yang bisa memberi ASI dan sukses tanpa usaha? Kalo ada, sini saya traktir bakso 2 mangkok.

“Sangat tidak adil jika seorang ibu di-judge “tidak memberi yang terbaik” untuk anaknya karena gagal memberi ASI.” – ini seperti yang dibilang tadi –> “Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”. Ya jangan dong..jangan menghakimi. Ayo dibantu dengan merayakan World Breastfeeding Week, minggu lalu ada puluhan informasi yang beredar biar Ibu menyusui bisa sukses dikala bekerja. Bahkan AIMI diberbagai kota memberikan informasi gratis dengan dating ke kantor-kantor loh. Iyah, mereka bergerak. Bukan sekedar enggak mau merayakan lalu menghakimi.

“Ayo kampanye ASI, bahwa ASI makanan terbaik bagi bayi karena murah dan mudah. Karena membuat bayi lebih sering berada di pelukan ibunya. Kampanyekan pada para ayah untuk  membuat ibu selalu bahagia. Kampanyekan pada para nenek dan kakek bahwa ASI lebih baik dari susu formula.

Bukan berkampanye dalam bentuk perayaan ramai-ramai mengunggah foto sertifikat dan jumlah ASI perah. Yang membuat ibu-ibu lain semakin tertekan secara psikologis dan semakin sulit memberi ASI.”

Satu lagi..Ayo Berkampanye untuk tidak berpikiran negatif, yuk selalu ajak orang untuk berpikiran positif.

Disclaimer: Tulisan ini adalah sepenuhnya opini dan pandangan penulis dan tidak mewakili opini @ID_AyahASI secara komunitas/keseluruhan.

*blog sendiri sih, ga usah pake nama lah ya*

 

 

 

 

Comments

  1. nenglita

    Ahem, menohok! Haha..

    Gue ibu yang udah lewat masa menyusui, udah overload untuk nulis tentang ASI, tapi tetap menulis tentang ASI di blog gue berkat infografis yang lo bikin, Mat!

    Gue percaya, sekecil apapun informasi tentang ASI yang kita sampaikan, pasti ada gunanya buat orang lain. Kalo secara Islam sih, sampaikanlah walaupun satu ayat 🙂

    1. Post
      Author
      arhidayat

      haha..betul lit, maksud gue sih..kita memang ga bisa nyenengin semua orang..tapi kalo dibikin kesan ada 2 kubu yg berlawanan kan ga bener juga..kaya ngajakin kisruh..kita kan satu kubu, kita korban dari kurang gencarnya informasi soal ASI dan Menyusui..yg berhasil sih beruntung bisa cari dukungan dengan mudah, yg belum beruntung mungkin agak sulit mencari dukungan. Nah, yg ini perlu kita rangkul..bukan dibikin jaraknya makin lebar. Bikin laper aja sih…

  2. elieve

    plok..plok..plok…
    Akhirnya yg ditunggu tiba, tulisan dibalas dgn tulisan.
    Berusaha tdk membahas postingan mbak blogger di wall dan timeline, soalnya semakin saya membahas, semakin orang penasaran dgn tulisannya, dan semakin ramailah blognya doi. (-_____-) Trus ujung2nya ntar tulisan itu menjadi semacam pembenaran buat ibu2 yg merasa gagal, “iya, emang rejeki asiku cuma segitu. ibu2 yg stok asi tuh emang hiperlaktasi, ga kaya aku yg asinya sedikit” –> edukASI bubar jalan, ibu2 yg merasa gagal bukannya berusaha belajar lagi, namun malah menyatakan rejeki asinya sedikit titik, udah takdir titik.
    Intinya adalah sebenernya dia sedang ngomong ma cermin tapi nunjuknya ke orang lain, dgn menjustifikasi orang sebagai pamer. 😀
    Niatnya jadi orang yg berempati terhadap mereka yg “terdzolimi”, tapi sebenernya dia sendiri yg ” mendzolimi” dgn memberikan informASI yg salah. Udah gitu, copycat tulisan orang pulak. Lengkap sudah. (–“)

    1. Post
      Author
  3. mira

    Bwahahahahhaha.. Aduh.. Tau banget nih “jawaban” dari post yang mana. Soalnya komen juga di post sana dan bilang kalo gak setuju sama isi post yg disana. Hahahahah.. Nah kali ini setujulah saya sama isi blogpost ini.. Intinya emang harus positive thinking ya. 🙂

  4. rizka

    Aduh..jadi panas begini ya *lalu garuk2 kepala. Saya sih memilih untuk menyampaikan dengan santun. Semua orang tahu lah manfaat ASI, masalah mau berjuang untuk ASI atau tidak itu pilihan. Saya memilih berjuang memberikan ASI sebatas kemampuan saya. Artinya banyak hal masih jauh dari idealis. Soal mengedukASI, saya juga mengedukASI teman yang sedang hamil dan menyusui. Cuma kembali lagi, saya tidak mau terlalu ngotot. Kalau dia gak mau ya terserah. Mengenai menjudge mungkin pilihan kata dan empati yang perlu dikedepankan.

    1. Post
      Author
      arhidayat

      maaf banget..ga bermaksud bikin panas..justru pengennya bikin adem..saya cuma merasa ga perlu memperuncing masalah soal Ibu Berhasil Menyusui vs Ibu Tidak Berhasil..udah cukup lah itu! Sekarang yg perlu adalah membantu dan kasih informasi agar ibu yg belum berhasil ga perlu merasa kecil hati, dan lalu mau jadi motor penggerak kampanye ASI agar orang lain bisa berhasil. gitu sih. maaf kalo jadi bikin panas, beneran ga bermaksud 🙁

  5. Dewa Ayu Putu Novita

    Ih beneran lo dibahas per kalimat! Hahahaha gue gemes banget bang kemaren baca blog “itu”. Dan elo membahas satu persatu dengan apik!

    Kalo gak ada yang merayakan World breastfeeding week kayak gini, gue yang dulu susah menyusui makin susah deh dapet informasi. Ambil manfaat, buang pikiran negatif paling bener udah.

    *sodorin bakso dua mangkok*

    1. Post
      Author
  6. echaimutenan

    walau nggak datang diacara kemaren, alhamdulillah saya dan suami bisa memberikan asi untuk anak kami tercinta..dan beberapa hari lagi bakal lulus ASI S3
    ^^
    alhamdulillah
    salam kenal
    ini juga komen pake user blog sendiri ^^ xD

  7. Dwiyani Arta

    Matsky….. Gw suka postingan lo….
    Meski gw udah gak nyusuin lagi tp greget wbw masih tetap ada di hati gw. Sharing sedikit, gw jg mengalami hal2 sulit dalam menyusui yang gak perlu dishare ke semua orang. Dan ketika gw berhasil memecahkannya dg meluluskan anak jd sarjana asi, rasanya looong bgt… Perjuangan yang gak sia2. Semua juga berkat dukungan DQ sang ayah ASI.

    1. Post
      Author
  8. rury

    Blog gini yg bwt aku semangat….semoga nanti anak ke-2 ku bisa aku kasih ASI cz anak pertamaku cuma 3 hari doang dapat ASInya…..membangun dan menyemangati….terima kasih ya….

    1. Post
      Author
      arhidayat

      Terima Kasih mba rury…iyah betul, orang-orang yang seperti mba rury nih perlu dijadikan contoh agar kita semua belajar dari kesalahan..jadi mari kita saling membangun dan menyemangati…uhuuuy 😀

  9. myra anastasia

    Setuju. Saya gak menampik kalau di sekeliling kita memang ada yang menjudge atau terlalu ngatur-ngatur gimana gitu, deh. Kalau pengalaman saya, paling berasa itu saat tandem nursing. Karena mungkin buat beberapa orang (termasuk di keluarga), tandem nursing itu masih sesuatu yang janggal.

    Kalau ada yang menjudge gitu rasanya sedih sih pasti, kesal juga iya. Tapi saya pun bertekad jangan sampai kalah. Terserah deh prang mau berpendapat apa, yang penting saya tetap menyusui. Titik *kadang-kadang tutup telinga demi kebahagiaan hati juga perlu hehe*

    Untungnya juga suami mendukung. Saya pikir yang namanya support orang terdekat gak perlu banyak. Asalkan punya 1 orang yang bener-bener support, itu udah bisa bikin bahagia banget. Walopun tentu aja semakin banyak yang support akan semakin baik. Tapi kalau sampe itu gak terjadi, jangan langsung berpikir kalau kita gagal trus nyalahin sekeliling. Kita lebih dulu yang bisa bikin diri sendiri bahagia. Buat saya sih itu berdasarkan pengalaman.

    Thx buat postingannya. Salam kenal, ya 🙂

  10. Twindya

    Tulisan ini jauh lebih bijaksana daripada tulisan emak blogger yang ramai kemarin. Menurut saya, merayakan, meng-upload foto freezer asip/sertifikat asip itu hak semua orang. Kita sebagai individu, busui maupun tidak, yang harus lebih bijaksana agar bisa melihat dan mengomentari foto-foto tersebut dengan pandangan yang positif. Terima kasih telah menuliskan artikel ini. 🙂

  11. Indah

    Terima kasih buat Mas si AyahASI yang udah kasih “jawaban” dari blog yang itu tuuh… bener tuh semua jawaban2nya,, mana ada sukses ASI tanpa usaha? temen saya ada loh ASI nya banjirr luber banyak melimpah eh tapi gak bisa lulus ASIX, itu karena apa? karena temenku kurang dapet ilmu dan dukungan mengenai ASI Perah, cara nyetok ASIP dll..,,,sekali lagi terima kasih untuk “jawaban” nya yaa..sangat mewakili sayaaa…. SEMANGAT ASI yaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    1. Post
      Author
      arhidayat

      saya cuma perlu meluruskan aja..soalnya ada beberapa informasi yang kurang tepat..semua orang kan perlu mendapat dukungan…yang upload foto stok ASIP banyak juga perlu mendapat dukungan agar dia lebih semangat…yang enggak upload pun perlu dapet dukungan agar lebih semangat lagi…jadi jangan dianggap keduanya saling bermusuhan..kan kita berada di satu kubu yang sama…sama-sama ingin memberikan yang terbaik bagi anak…mari tebarkan budaya poisitif yaaah 😀

  12. ennylaw

    Bener deh informasi ttg menyusui emang penting. Meski udah 2x nyusuin aku masih tetep aja gagal nyusuin dihari pertama anak lahir. Kesel, bgt rasanya. Dan baru engeh setelah beberapa hari kemudian baca2 dan nemu tipsnya.

    1. Post
      Author
  13. eve

    Org lain yg sk ngejudge itulah yg menambah si ibu jd stress.. pdhal bnyak faktor yg bs mnyebabkan ktidakberhasilan memberikan ASI. yaaa namanya ibu baru pasti jg pengalaman pertama dan tahap blajar *walau dah bljr teorinya sih. Tp praktek kan baru aja… wooo ooo ooo… yang penting sdh brusaha semampunya semaksimal mgkin untuk buah hati. Suami jg slalu support. Namun jk blm sukses… smg bnr2 mnjadi cambuk untuk anak berikutnya agar bisa ngASI Full. Sdh brusaha namun msh dicemooh itu sangat mnyakitkan. Apalagi bg wanita karir yg mmg g bs slalu ada everytime buat babynya… smga yg tukang ngejudge jg lbh pnya hati ketika berbicara…pnya wawasan yg luas jg biar lbh bijak dlm menilai….

    1. Post
      Author
      arhidayat

      betul..apapun usahanya harus dihargai, yang penting kita belajar dari yang lalu agar kedepan lebih sukses lagi..yang tukang menghakimi biar komisi yudisial aja yang urus 😀

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  14. lialathifa

    setuju banget sama pandangan di tulisan ini.. meskipun saya lulus menyusui Shidqi Selma selama 2tahun, tapi tetap dengan perjuangan yg melodrama hehe, apalagi dipandang sbg pemilik “gudang ASI kecil” tapi alhamdulillaah gak sampai kecil hati 🙂

    1. Post
      Author
  15. lialathifa

    setuju banget, saya merasakan perjuangan menyusui sambil sakit2an, alhamdulillah mensyukuri apa pun yg ada, tetaplah semangat 🙂

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  16. Post
    Author
    arhidayat

    iyaaah..kalo ada orang yang berpandangan negatif, harusnya diajak untuk selalu berpikiran positif dan dibantu..bukan dengan semakin menegaskan bahwa yang satu salah, dan harus ngertiin yang lain…NO, keduanya harus dibantu hingga merasa sukses…dan harus diajak untuk menjadi motor dalam menyebarkan informasi soal ASI dan Menyusui..

    ya kan? ya gak sih? hahahaha

  17. Post
    Author
  18. Hilda Ikka

    Haha, ketauan banget sik tulisannya nyindir blogger sebelah. Kalo berani ya chat pribadi Mas, bertukar pikiran ama orangnya sendiri. Pengalaman hidup sampean dengan dia nggak sama kan?

    Kalo cuma ditulis di sini mah cuma dapet pembelaan publik. Cemen. Cuma mau ngerasa yang paling bener. Alangkah baiknya kalo sama-sama dikomunikasikan baru ditulis deh.

    1. Post
      Author
      arhidayat

      nah ini nih contohnya…udah ga kenal, lalu main menuduh orang cemen dan menganggap saya mau ngerasa yang paling bener?

      pertanyaan saya..apa mba juga bilang sama yang disana kalo dia nyindir ibu menyusui yang upload sertifikat menyusui? lalu menyuruh dia untuk chat pribadi dan bertukar pikiran? mba bilang jugakah sama dia kalo yang dia tulis juga hanya sekadar untuk mendapatkan pembelaan publik? apa mba juga bilang kalo dia hanya ingin merasa dirinya yang paling benar? Apa dia sudah mengkomunikasikan apa yang dia mau tulis dengan ibu menyusui yang upload foto-foto itu? lalu baru menuliskannya?

      mba…apa mba sudah bilang begitu juga ke dia?

      blog itu ibarat rumah, saya sudah memperbolehkan semua orang untuk masuk dan melihat rumah saya…tapi apa etis, ketika sudah diperbolehkan masuk lalu menuduh macam-macam yang punya rumah?

      kalo mau, bikinlah tulisan yang meng-counter tulisan saya di blog pribadi mba..itu namanya diskusi cerdas!

    2. Hanya Ibu Biasa

      ya ampun.. Memang hal yg paling mudah memang menuding menuduh orang lain.. Mudah2an bukan karakter abadi ya mbak.

      Lakukan hal yg adil di kedua belah pihak.. Yang pasti Mbak Amanda Andono Sudarwanto sbg salah 1 dari 22 pendiri AIMI sdh mencoba mengajak ngobrol penulis blog sebelah lewat fb nya tp ga trlihat ditanggapi tuh.

  19. nadia

    Waduh. Saya disini sebagai ibu menyusui yang baca kedua postingannya sih jatohnya jadi geli sendiri ya, kok malah jadi panas dan blogwar untuk masalah yang personal. Why personal? Semua orang punya kondisi yang berbeda lho mengenai pemberian ASI ini. Kalau saya pribadi nih, menangkap kedua tulisan ini sama2 ada nilai positifnya kok. Blog mbak yang kemarin lebih menekankan pada adanya perbedaan kondisi itu dan, menurut saya yang mencoba positif seperti saran mas, bukan berniat memberi pembenaran pada ibu yang gagal menyusui juga sih sepertinya. Saya malah tersemangati juga lho baca tulisan mba itu, karena berarti tidak semua ibu menyusui itu seperti yang lebih sering terpublikasi: bisa kasih sertifikat lulus asi eksklusif, punya stok asip banyak, sekali perah bisa ratusan cc. It means saya tidak sendiri, and it is okay tidak punya stok asip berfreezer2 atau bahkan harus mencari donor, selama masih terus mengupayakan untuk bisa kasih ASI. Saya alhamdulillah menurut teman saya yang aktivis ASI sih saya belum bisa dikategorikan gagal menyusui, tapi saya enggan mengeksklusifkan pemberian ASI saya karena sempat dopping sufor 2x 30cc karena kondisi medis. Kenapa saya akhirnya ACC untuk dopping? Karena saya paham betul ada resiko medis disana. Apakah masih bisa dibilang asi eksklusif? Nope, namanya asi predominan. (betul?) Plus, saya bukan mamaperah dengan produksi asi ratusan cc sekali pumping. Thanks to artikel supportif yang memberi info tentang adanya power pumping, breastcare, pijat oksitosin, manajemen asip dll, tapi tetep lhoo hasil pumping saya ga bisa ratusan cc. Tapi alhamdulillaah masih bisa kejar tayang dan cukup: anak saya lahir dengan BB paspasan, sekarang ada di kuartil atas di chart, sejak 2x30cc itu full asi dan baru akan mpasi 3 hari lagi. Anyway, intinya, mungkin juga bkn hanya saya kok yang terbesarkan hatinya baca posting mbak itu. it wasn’t that bad!
    Dan menurut saya, posting ini bisa dibuat sedikit lebih positif dengan tanpa menyertakan sitasi2. There’s “negative judgement” also lhoo dengan menyertakan sitasi. Mungkin bisa dikemas lebih anggun dengan paparan Mengapa Merayakan WBW? Karena banyak Ibu menyusui yang perlu dibantu and so on and so on, walau ada pesan tersirat pengen jawab yang tidak merayakan. No? *just saying* *maafkepanjangan*

    1. Post
      Author
      arhidayat

      haii..terima kasih atas komentarnya..
      1. saya mohon maaf kalo jadi ada kesan mau bikin panas atau bahkan blogwar.
      2. saya sama sekali tidak ingin terjadi blogwar..ini murni saya dudukkan sebagai sebuah diskusi
      3. seperti yang saya tulis di beberapa komentar..kita ada dipihak yang sama kok, jadi enggak perlu berantem apalagi saling menghakimi

      sekali lagi saya minta maaf dan mari saling menyemangati 😀

  20. Post
    Author
    arhidayat

    haha..thanks mba milly…suka nih sama komennya “kalo emang mau ngasih ASI ya dibawah ASIk aja”

    mau ASI sedikit..ya asik aja, mau campur sufor..ya asik aja..asal jangan dibuat kesan ada 2 kubu yang saling bersebrangan.
    keduanya kan butuh dukungan dari kita semua..yang penting kita semua mau belajar dari kesalahan masa lalu. udah, itu aja cukup!

  21. millycious

    Dan gw sangat berterimakasih atas segala infographic ttg asi yg tersebar selama breastfeedingweek ini ^_^

    Krn gw jadi lebih mudah utk turut menyemangati teman2 lain yg mau ngasih ASI karena info nya jadi lebih jelas dan menyenangkan utk dibaca

    Yah secara dulu anak pertama itu sangat minim pengetahuan ttg ASI dan info nya juga minim bgt

    Dan gw sebagai ibu bekerja mengucapkan makasih bgt atas segala info nya krn gw pun jadi bisa meyakinkan kantor gw utk bisa lebih mensupport karyawati nya yg mau menyusui ^_^

  22. gita

    postingan yang menarik mas 🙂

    saya termasuk ibu yang belum berhasil ASI.
    jujur saja sebelumnya saya membaca postingan dari mbak blogger tsb dan sempat merasa terwakili.
    saya rasa apapun yang kita sampaikan, yang menurut kita baik atau buruk, orang akan selalu punya opini yang berbeda ya.
    saya tidak membenarkan juga secara keseluruhan isi postingan ini atau dari mbak yg sebelumnya.

    bagi saya ibu2 yang mau upload foto sertifikat ASI atau foto freezer yang berisi puluhan botol2 ASIP itu hak mereka. karena pasti mereka bisa seperti itu juga dengan perjuangan ya. jadi pasti ada kebanggaan tersendiri jika akhirnya berhasil.

    saya sendiri dulu dari waktu hamil sudah bertekad ingin memberikan ASI hingga 2 tahun atau lebih. namun ternyata memang perjalanannya tak semulus yang saya bayangkan.
    mulai dari minum obat, makan berbagai sayur, mencoba susu dan madu yang katanya bisa membantu memperbanyak ASI, pumping, akupuntur ASI.. namun tetap belum berhasil. saya tidak menganggap itu semua sbg beban, tapi sebagai ibu yang memang sangat ingin berhasil menyusui tidak ada salahnya mencoba semua itu kan.
    saya pun sedari awal sudah berkali2 konsultasi dengan dokter laktasi, hingga suatu saat ketika anak saya berumur hampir 3 bulan, dia hampir 3 minggu waktu tidurnya jauh berkurang. saya kembali konsultasi dengan dokter laktasi, ternyata memang kenaikan berat badannya tergolong mengkhawatirkan, sehingga perlu dibantu suplementasi dengan sufor.
    sedih? jangan ditanya.
    saya tidak pernah membayangkan kondisinya seperti ini, harus memberikan sufor utk anak saya. saya sempat merasa sangat amat bersalah dan gagal menjadi seorang ibu.
    sehingga akhirnya malah semakin stress, yang berujung depresi.
    merasa hidup saya sia2, tidak berguna sebagai seorang ibu, hingga yang cukup parah berhalusinasi menyakiti anak saya sendiri.
    it was that bad. sampai kadang saya tidak berani ditinggal sendiri dengan anak saya.
    saya merasa marah sekali dengan diri saya, kenapa saya tidak bisa berhasil ASI seperti ibu2 yang lain 🙁
    dengan kondisi seperti itu jelas ASI saya jadi makin seret.

    suami dan keluarga saya membesarkan hati saya, bahwa itu bukanlah akhir dari segala2nya. akhirnya kemudian saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri.

    sampai sekarang saya masih menyusui anak saya, walaupun memang dibantu juga dengan sufor.
    bagaimanapun saya percaya ASI adalah yang terbaik, meskipun saya belum bisa memberikan secara maksimal bagi anak saya, berapapun yang masuk ke tubuhnya, pasti tetap mengandung zat2 yang lebih baik.

    jadi menurut saya, opini tiap orang memang akan berbeda tergantung pengalaman pribadinya.
    ASI tetap yang terbaik, ayo usahakan semaksimal mungkin agar bisa berhasil.
    tidak perlu saling menjatuhkan antara ibu yang berhasil dan belum, pasti masing2 punya pengalaman yang berbeda.

    pada akhirnya yang kita inginkan tetap sama, yang terbaik bagi buah hati kita 🙂

    1. Post
      Author
      arhidayat

      betul..saya setuju dengan mba “kita tidak perlu saling menjatuhkan”. justru karena masing2 punya pengalaman yang berbeda itu kita harus menghargai..thanks mba 🙂

  23. vizon

    Keren nih gerakan AyahASI. Ini semakin menunjukkan bahwa kepedulian para ayah terhadap anaknya semakin tinggi di zaman sekarang. Tidak seperti paradigma masa lalu yg memposisikan ayah semata sebagai “mesin pencari uang”, tapi juga memiliki andil besar dalam kehidupan anak, sebagaimana sang ibu. Saya apresiasi yang setinggi-tingginya untuk komunitas ini..

    Soal “pamer”, menurut saya itu hanyalah persepsi sesaat dan akan tergerus dengan sendirinya. Yang paling penting adalah bahwa spirit dan semangat memberikan ASI buat buah hati adalah hal yang patut dikampanyekan.. 🙂

  24. Post
    Author
    arhidayat

    menyusui harusnya menjadi peristiwa yang menyenangkan, enggak boleh ada yang mengintimidasi..semua orang berhak untuk posting di media sosial miliknya…yg masih kesulitan soal ASI dan Menyusui juga harus kita bantu agar dia berhasil..yuk tebarkan terus semangat positif 🙂

  25. olisia

    ish bang mat tulisannya keren abis..memberikan asi emang bener2 perjuangan.rejeki yg emang dgn perjuangan.pas anak pertama sempet saya yg down sendiri karena setelah masuk bekerja ASI jadi bener2 ga sebanyak bulan2 awal.sempet mau nyerah.sampe nangis2 segala.untung si ayah tetep menguatkan saya…

  26. melisa

    Akhirnya saya menyempatkan diri untuk komen walau kayaknya sudah telaaaat bgt. Sejujurnya saya sedih kok postingan yang memberikan sedikt kelapangan dada bagi ibu2 yang kesulitan memberikan asi malah diserang habis-habisan.
    Saya baru saja menjadi seorang ibu. Tanpa harus melihat, membaca, dan mendengarkan kampanye ASi, saya sudah tahu pentingnya asi dan saya bersikeras untuk memberikan asi pada anak saya.
    Saya harus tidak setuju dengan pendapat anda mengenai takdir dan usaha. Saya sudah berusaha mati2an sejak anak saya lahir untuk tetap memberikan asi, tapi tahukah anda, anak saya ditakdirkan memiliki posterior tongue tie (anda kan Ayah Asi pasti sudah tau apa ini dan apa akibatnya). Saat ini saya tidak tinggal di Indonesia dan tidaklah mudah disini untuk dapat menemui spesialis untuk menangani kasus tersebut. Untuk mendatangkan laktasi konsultan saja, saya harus mengeluarkan uang sendiri yang tidak tanggung2 mahalnya (dan karena kasus yang sulit, saya harus menggunakan 2 konsultan berbeda). Lalu, disini tdak semua dokter dapat melakukan revisi posterior tongue tie (berbeda dengan anterior tongue tie yang mudah untuk diperbaiki). Saya sampai harus menunggu berminggu2 sampai akhirnya bertemu konsultan laktasi yang dapat memberikan surat referensi ke dokter spesialis yang tepat di tempat yang cukup jauh. Akhirnya lidah bayi saya diperbaiki. Agar “lidah barunya” berfungsi dengan baik, saya harus menunggu beberapa minggu bahkan bulan (sampai saat ini belum berfungsi sebagai mana mestinya). Asi saya tidak pernah bisa terstimulasi karena keterbatasan lidah lama anak saya, sehingga saya tidak mempunyai cukup produksi asi. Anak saya tidak bisa mengosongkan PD sehingga tidak ada signal untuk memperbanyak asi. Anak saya juga diduga memiliki upper lip tie yang mebuat dia tidak bisa maksimal dalam perekatan dan menstimulasi kelenjar susu. Saat ini belum ditangani karena dokter spesialis yang menanganinya mau melihat hasil dari revisi lidah dahulu.
    Saya mengerti teori demand & supply asi. Selain menyusi secara langsung, saya melakukan pumping sehari 8 kali (YA 8 KALI SEHARI) sejak hari ke-3 hingga saat ini, minggu ke-8. Percaya atau tidak, jumlah asi saya tidak bisa menutupi kebutuhan anak saya. Saya sudah mengkonsumsi segala makanan dan obat2an, termasuk berusaha mendapatkan domperidone dari dokter keluarga (disini sangat sulit untuk mendapatkan obat tanpa resep dokter apalagi indikasi obat tersebut sebenarnya bukan untuk penmbah asi). Sampai saat ini, asi saya masih sedikit juga. Saya sudah berusaha mati-matian (kebayang kan: nyusuin lalu kasih hasil perahan, lalu terpaksa kasih suplemen karena anak masih maraung2 tidak bisa mendapat asi dari PD saya, lalu sehabis itu saya harus pompa lagi… itu kegiatan saya setiap hari!). Perlu anda ketahui juga, bukan saya saja yang mengalami hal seperti ini. Saya banyak mengikuti forum2 internasional dimana saya banyak bertemu orang2 dengan kondisi bayi dan supply yang sama. Kita tidak gila dengan bilang kita punya supply yang sedikit padahal sudah berusaha sampai berdarah-darah. Sampai saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan agar anak saya dapat menggunakan lidahnya dengan normal seperti bayi2 lainnya dan pada akhirnya supply asi saya tidak akan habis dan bisa meningkat sesuai kebutuhannya.
    Jadi, please jangan bilang kalau saat ini saya tidak mendapatkan yang gratis dari Tuhan karena saya kurang berusaha. Sampai saat ini saya belum menyerah untuk tetap memberikan asi dan saya masih berharap Tuhan mendengar doa dan mengubah takdirnya atas usaha saya.

    1. Post
      Author
      arhidayat

      mba melisa, kasus menyusui setiap orang tentu berbeda..tulisan saya jelas mengomentari sebuah blog yang menurut saya pribadi telah menyudutkan ibu yang memerah asi dan ingin memotivasi diri sendiri dan orang lain dengan mem-posting foto hasil perah di social media miliknya sendiri.

      saya mohon maaf jika tulisan saya juga membuat mba melisa merasa tidak nyaman. tapi tulisan saya tidak ditujukan buat mba melisa.

      justru saya salut dan bangga dengan sosok seperti mba melisa, melakukan usaha maksimal untuk tetap bisa menyusui dengan segala kendala yang ada..tanpa menyudutkan atau menyalahkan orang lain. buat saya pribadi, apapun yang dilakukan oleh semua ibu untuk bisa menyusui harus dihargai..termasuk soal usaha mba melisa *saya angkat topi*

      sekali lagi..saya mohon maaf jika tulisannya membuat mba melisa tidak nyaman. tulisan saya ditujukan utk sebuah blog yg menurut saya justru berpotensi menyulut salah paham, ibu yang kurang lancar menyusui dan ibu yang mudah menyusui TETAP HARUS DIDUKUNG!!

      terus semangat mba, sekali lagi saya mohon maaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *