white-interior-blur-blurred-chair_1203-4272

razia warung makan

gue yakin bukan cuma gue yang gatel mau ikutan komentar soal isu diatas beberapa hari yang lalu.

asli gatel banget pengen ikutan komen, tapi gue mikir, apa untungnya buat gue komentar? pengen nunjukin eksistensi? pengen orang tau kalo gue memihak si A dan B? pengen ngasih tau kalo gue bener dan yang lain salah?

jadi gue memilih diam, membaca semua pandangan, lalu mengambil keberpihakan gue tanpa harus update di media sosial.

disini, kita kembali diuji, seberapa sabar kita reaktif terhadap sebuah isu.

mau tau cara gue melewati semua keresahan diri gue untuk ikutan komen? ga mau tau? bodo! gue tetep kasih tau.

  1. Mencoba cari tau titik persoalan, gue coba cari salinan digital perda yang dimaksud, tapi ga nemu.
  2. Membaca semua informasi terkait razia warung dari berbagai sumber, baik yang resmi maupun yang tidak, termasuk status di media sosial.
  3. Sadar diri bahwa ikutan komen hanya akan menambah beban hidup gue yang baru dibeliin celana sama istri tapi ga muat (pedih men).
  4. Udah mikir keras, tapi ga nemu keuntungan apa yang bisa gue dapet dari ikutan komen. pembelajaran pun tidak, karena pasti gue akan mempertahankan pandangan gue.
  5. Mengambil kesimpulan sendiri setelah membaca banyak hal terkait isu razia warung, tanpa perlu membaginya ke sosial media
  6. Hidup lebih tenang

eh tapi facebook gue masih rame bahas isu itu. et dah! move on kenapeeeee…

IMG_2442

World Breastfeeding Week

Hari ini adalah hari terakhir World Breastfeeding Week atau Pekan Menyusui Sedunia. Iyah, Week disini sebenarnya berarti Pekan, bukan Minggu. Meskipun saya AyahASI yang memberi dukungan agar istri saya menyusui anak-anak kami (Anak ke-1 menyusui hingga 2.2 tahun, anak ke-2 masih menyusui dan saat ini umurnya 8 bulan), saya memilih untuk merayakannya. Saya bahkan membuat infografis soal ASI dan Menyusui selama 7 hari berturut-turut untuk @ID_AyahASI, dan menyebut puluhan kali “perayaan” ini di akun social media. Meski baru kali ini saya menyebutnya di blog pribadi

Karena buat saya, hal ini berguna untuk memberikan informasi soal ASI dan Menyusui. Saya dan istri pernah mengalami kesulitan dalam hal menyusui, pun begitu dengan para pendiri AyahASI. Itu kenapa kami membuat buku Catatan AyahASI dan mendirikan @ID_AyahASI, agar cukup kami saja yang mengalami kesulitan atau kegagalan dalam hal pemberian ASI, orang lain jangan sampe gagal. Iyah, saya memang bangga mengalami kesulitan soal ASI dan Menyusui dan kemudian berhasil melewatinya. Justru itu, saya ingin mengajak semua ibu-ibu untuk tidak gagal dan agar berhasil memberikan ASI untuk anaknya. Saya dan teman-teman @ID_AyahASI justru ingin merangkul ibu-ibu yang belum bisa memberikan ASI untuk belajar lagi soal ASI dan Menyusui agar bisa membantu teman-teman, tetangga bahkan familinya.

Pertama, bagi sebagian orang memberi ASI adalah perjuangan yang luar biasa. Perjuangan ini levelnya berbeda-beda.

Same Sex Marriage

Artikel dibawah ini terlalu menarik untuk enggak gue taro di blog ini. Kurang lebih mewakili pendapat gue soal Same Sex Marriage yang baru aja dilegalkan di US. Gue sendiri enggak ada masalah soal LGBT, bertahun-tahun kerjaan gue juga berhubungan sama temen-temen ini. Prinsip gue sederhana, elo udah dewasa, gue menghargai pilihan elo, soal dosa itu urusan elo sama Tuhan. Itu kenapa sampe sekarang gue berteman baik dengan temen-temen LGBT.

Tulisan ini menarik karena ditulis oleh seorang gay, meski dia menggunakan nama samaran. Silahkan dibaca.

diambil dari http://thefederalist.com/

diambil dari http://thefederalist.com/

I’m Gay, And I Oppose Same-Sex Marriage; I want nothing in this world more than to be a father. Yet I can’t bring myself to celebrate same-sex marriage.

Gay marriage has gone from unthinkable to reality in the blink of an eye. A recent Washington Post/ABC News poll shows that support for gay marriage is now at 61 percent—the highest it’s ever been. On Tuesday, the Supreme Court will hear arguments in the case that many court-watchers believe will deliver the final blow to those seeking to prevent the redefinition of marriage. By all measures, this fight is over. Gay marriage won.

As a 30-year-old gay man, one would expect me to be ecstatic. After all, I’m at that age where people tend to settle down and get married. And there is nothing in this world I want more than to be a father and raise a family. Yet I can’t seem to bring myself to celebrate the triumph of same-sex marriage. Deep down, I know that every American, gay or straight, has suffered a great loss because of this.