Catatan Kritis Revolusi Putih

Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta
Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta

Pasangan Prabowo-Hatta menuliskan soal Revolusi Putih ini di dokumen visi-misi yang disampaikannya kepada KPU. Untuk jelasnya, dokumen visi-misi pasangan Prabowo-Hatta bisa lihat disini. Revolusi Putih pada paparan visi-misi tersebut (seperti pada gambar diatas) tertulis begini, “Menggerakkan revolusi putih mandiri dengan menyediakan susu untuk anak-anak miskin di sekolah melalui peternakan sapi dan kambing perah”.

Sayangnya, agak susah mencari dokumen resmi yang menjelaskan konsep revolusi putih mandiri tersebut. Gambaran yang cukup lengkap bisa ditemukan pada website TIDAR (Tunas Indonesia Raya), TIDAR sendiri merupakan organisasi sayap partai Gerindra. Pada website tersebut ada artikel yang berjudul ‘Latar Belakang Informasi Revolusi Putih’, lengkapnya bisa baca disini. Jadi, untuk saat ini, artikel tersebut gue jadikan ukuran tentang konsep revolusi putih yang disampaikan oleh pasangan Prabowo-Hatta.

Berikut adalah beberapa kutipan dari artikel dengan judul Latar Belakang Informasi Revolusi Putih tersebut:

Revolusi Putih adalah gerakan meningkatkan konsumsi susu terutama bagi anak dan remaja agar terjadi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Dengan tujuan agar terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi sejak dini. Bagi negara, Revolusi Putih tidak sekedar meningkatkan konsumsi susu masyarakat tetapi juga produksi susu yang mampu menopang target konsumsi susu. Hal tersebut harus mulai dari politik anggaran yang memprioritaskan perbaikan sumber daya manusia Indonesia.

Survei yang dilakukan Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada tahun 2011 memaparkan fakta bahwa konsumsi susu di Indonesia paling rendah dibandingkan konsumsi susu di negara ASEAN maupun Eropa. Konsumsi susu masyarakat per kapita per tahun di Cina 24 liter, Vitenam 12,1 liter, Filipina 22,1 liter, Malaysia 22,1 liter, Thailand 33,7 liter, India 42,8 liter, dan Indonesia 11,9 liter. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya lima tetes sehari, masih sangat rendah.

Di Indonesia prevalensi kekurangan gizi pada anak balita komposisinya sekitar 13 persen anak mengalami gizi kurang dan 4,9 persen gizi buruk sesuai dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. Revolusi Putih berfungsi sebagai upaya memperbaiki gizi bangsa dan mengurangi bahkan mengentaskan gizi buruk. Dengan memperbaiki gizi bangsa berarti memperbaiki kualitas sumber daya manusia, meningkatkan indeks perkembangan manusia serta meningkatkan kesejahteraan. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan maka kemiskinan juga dapat berkurang.

Pada awal tahun 1950-an Prof Poorwo Sudarmo (Bapak Gizi Indonesia) mencetuskan empat sehat lima sempurna dengan menempatkan susu pada urutan terakhir. Program peningkatan gizi tersebut sempat berjalan dengan baik selama beberapa waktu namun tidak mampu dijalankan secara konsisten dan nasional sehingga peningkatan gizi anak bangsa belum mencapai target yang diinginkan dan mengubah kualitas penduduk bangsa Indonesia seperti pada negara Jepang, Cina dan India.

Secara umum Revolusi Putih menyebutkan bahwa perbaikan gizi pada anak-anak miskin adalah dengan meningkatkan konsumsi susu. Ini yang gue kurang setuju, soal perbaikan ekonomi dengan peternakan sapi dan kambing perah, gue setuju, asal dikelola dengan jujur dan baik tentunya.

Perjalanan Sejarah Pedoman Gizi Indonesia
Soal pedoman gizi ini enggak bisa enggak harus kita bahas, karena jelas berpengaruh sama pola makan masyarakat Indonesia, dan efeknya pada kesehatan masyarakat. Sorry to say, pemerintah seakan-akan terlalu menganggap remeh soal pedoman cara makan ini. Gue yakin, sebagian besar dari kita masih mengenalkan konsep 4 Sehat 5 Sempurna (4S5S) sebagai pedoman cara makannya, beberapa teman bahkan menyebutkan konsep 4S5S ini masih disampaikan di sekolah-sekolah TK dan SD.

Soekirman, Direktur Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) mengatakan bahwa pada tahun 1930an, ilmu gizi hanya mengenal 3 zat gizi utama, yaitu protein, karbohidrat dan lemak, ketiganya sumber energi. Baru kemudian ditemukan vitamin dan mineral. Atas dasar DKBM hasil penelitian BPP, USDA menyusun Pedomanan Makanan (“Food Guide”) dengan mengelompokkan bahan makanan atas dasar sumber zat gizinya. Di tahun 1930an USDA mengelompokkan menjadi 12 kelompok makanan. Tahun 1940an dikecilkan menjadi 7 kelompok, dan tahun 1956 menjadi 4 kelompok yang di Amerika dikenal sebagai “Basic Four Food Guide”. Pedoman ini sejak tahun 1950an diikuti oleh banyak negara lain dengan Basic Fournya masing-masing, termasuk Indonesia dengan Empat Sehat Lima Sempurnanya.

Gambar Basic Four versi USDA
Gambar Basic Four versi USDA
Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna
Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna

 

Amerika kemudian melakukan studi untuk mengevaluasi pedoman gizi tersebut. Hasil survey gizi yang dikeluarkan pada 1970 tersebut mengatakan bahwa pola makan orang Amerika ternyata tidak berubah bahkan cenderung lebih buruk, yaitu  tinggi lemak, tinggi gula, tinggi garam, dan  rendah  serat.  Tidak ada keseimbangan antara asupan energi dari makanan yang masuk dengan pengeluaran energi.  Susunan makanan demikian  memicu timbulnya kegemukan. Akibatnya jumlah orang yang gemuk dan gemuk sekali (obis)  dengan dampak negatifnya terus meningkat di USA. Akhirnya disimpulkan bahwa  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif.

 

Sialnya, kita tidak melakukan evaluasi terhadap konsep 4 Sehat 5 Sempurna. Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan di Amerika sendiri melakukan kajian bersama untuk selalu melakukan evaluasi terhadap Pedoman Makanan (Food Guide) setiap 5 tahun sekali. Bayangkan ini, konsep 4 Sehat 5 Sempurna yang menjadi Pedoman ‘Resmi’ Makanan masyarakat Indonesia selama 45 tahun (1950-1995) tidak pernah dievaluasi. Padahal Amerika sudah banyak melakukan evaluasi.

 

Pada tahun 1991 ada kejadian yang menarik terjadi di Amerika, khususnya soal penetapan Pedoman Makanan (Food Guide) ini. Menteri Pertanian Amerika tampak ragu-ragu mengeluarkan Pedoman Makanan yang baru, ia mengatakan bahwa pedoman makanan yang baru ini tampak akan membingungkan bagi anak-anak. The Eating Right Pyramid yang baru itu sejatinya akan diluncurkan dengan ilustrasi angka 8 yang kurang lebih isinya adalah ada kelompok Gandum, Sayuran, Buah-buahan, dengan pengurangan konsumsi pada Daging dan Susu serta pengurangan konsumsi pada makanan yang tinggi lemak dan gula. Konsep ini kabarnya mendapat penentangan dari Industri Daging dan Produsen Susu, karena dikhawatirkan akan mengurangi produksi mereka. Dalam sejarahnya, penentuan Pedoman Makanan (Food Guide) di Amerika memang tidak pernah terlepas dari lobi-lobi industri makanan, pun termasuk produsen susu.

Balik lagi soal 4 Sehat 5 Sempurna, jadi pada tahun 1970, Amerika saja sudah mengadakan studi terhadap pedoman makanannya dan hasilnya adalah  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif. Pedoman ini ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu Obesitas dan Kegemukan. Sementara di Indonesia? Iya, kita terus menggunakan konsep itu dan tidak melakukan evaluasi hingga akhirnya dijadikan pedoman makan kita selama hampir lebih dari 45 tahun.

Basic Four yang kemudian diadaptasi oleh kita dengan slogan 4 Sehat 5 Sempurna berangkat dari kondisi perang dunia kedua. Pedoman Makanan ini dibuat sedemikian rupa agar masyarakat dapat dengan cepat dan mudah mempelajari apa yang harus dimakan agar tubuh sehat. Kondisi perang dunia kedua tentu sangat mengkhawatirkan, tingkat pendidikan rendah, ekonomi hancur lebur, komunikasi terbatas dan lain sebagainya. Sehingga konsep ini memang dibuat agar masyarakat belajar cara makan dengan mudah. Konsep ini menekankan pentingnya empat golongan makanan berupa sumber kalori untuk tenaga, protein untuk pembangun, sayur dan buah sumber vitamin dan mineral untuk pemelihara.

Beberapa kekurangan konsep 4 Sehat 5 Sempurna ini adalah:

  1. Kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda tergantung berbagai faktor
  2. Susu bukan makanan sempurna. Susu adalah sumber protein hewani yang juga terdapat pada telur, ikan dan daging. Oleh karena itu, susu ditempatkan dalam satu kelompok dengan sumber protein hewani yang lain
  3. Tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan ilmu gizi
  4. Susunan makanan yang terdiri atas 4 kelompok belum tentu sehat, bergantung pada porsi dan jenis zat gizinya apakah telah sesuai dengan kebutuhan.

Kondisi Gizi di Indonesia

Menteri Kesehatan pada sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa permasalahan gizi yang masih sulit dikendalikan adalah terkait kekurangan gizi dan pendek (stunting). Pada tahun 2010 prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak kita kemungkinan besar pendek. Sementara prevalensi gizi kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan capaian ini target MDGs sasaran 1 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015 diperkirakan dapat dicapai.

Revolusi Putih yang dicanangkan oleh pasangan Prabowo-Hatta merujuk pada ‘Operation Flood” pada tahun 1970 di India. Artikel di website TIDAR tersebut menulis begini, “India adalah salah satu negara yang memulai Revolusi Putih pada tahun 1970 melalui programnya ‘Operation Flood’ yang diprakarsai oleh Dr. Verghese Kurien. Revolusi Putih India yang berhasil meningkatkan produksi dan konsumsi susu, gizi masyarakat, dan ekonomi rakyat. Berkat Revolusi Putih yang dilakukan, India berhasil meningkatkan angka konsumsi susu masyarakatnya hingga mencapai 42,8 liter per kapita per tahun dan menjadi produsen susu terbesar di dunia”.

Oke, sekarang lihat data dibawah ini..

Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)
Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)

Laporan Gizi yang dikeluarkan UNICEF pada tahun 2013 itu menyebutkan bahwa 80% jumlah anak pendek (stunting) didunia ternyata berada di 14 negara, dan India adalah negara terbanyak yang memiliki jumlah anak pendek (stunting), Indonesia sendiri berada di rangking ke-5. Pertanyaannya, apakah kita akan mengikuti Revolusi Putih India jika melihat bahwa ternyata India adalah negara tertinggi dengan populasi anak pendek (stunting) terbanyak di dunia?

 

Masih berdasarkan laporan UNICEF tersebut, Indonesia mengalami beban ganda terhadap masalah gizi ini. Beban ganda tersebut adalah terkait dengan kekurangan gizi dan kegemukan. 1 dari 3 anak di Indonesia yang berusia dibawah 5 tahun cenderung pendek dan secara bersamaan 1 dari 7 anak di Indonesia kegemukan atau kelebihan berat badan. Pola konsumsi yang baik tentu menjadi solusi untuk mengatasi permasalah gizi tersebut, dan tentu letaknya bukan hanya di peningkatan konsumsi susu.

 

Pemerintah Indonesia melalui Bappenas pada tahun 2013 telah meluncurkan program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK). Gerakan ini tentu sebaiknya juga menjadi pegangan bagi Pasangan Capres untuk melakukan program perbaikan gizi di Indonesia.

1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak janin dalam kandungan hingga ulang tahun kedua seorang anak, merupakan periode yang sangat penting karena kebanyakan kerusakan atau terhambatnya pertumbuhan yang disebabkan oleh kurang gizi terjadi selama periode tersebut. Gagal tumbuh terjadi diantaranya karena terhambatnya perkembangan otak yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan selanjutnya. Oleh sebab itu, sangatlan penting untuk memfokuskan perhatian pada periode 1000 hari pertama kehidupan, dan memastikan bahwa ibu mendapat gizi yang cukup selama kehamilan dan bahwa berbagai langkah harus diambil untuk mencegah anak menjadi kurang gizi selama dua tahun pertama kehidupannya.

 

Beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia secara umum adalah: 1) Permasalahan ketahanan pangan di rumah tangga, saat rumah tangga tidak mampu menghasilkan atau membeli makanan yang cukup, 2) Minimnya pola asuh yang baik, terutama pemberian ASI, makanan pendamping ASI, dan perawat terhadap ibu sebelum dan selama kehamilan serta setelah persalinan, 3) Air, Sanitasi dan hygiene yang buruk yang meningkatkan penularan berbagai penyakit seperti misalnya diare, 4) Layanan Kesehatan yang kurang memadai, 5) Kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan.

 

Dari beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia yang tercantum dalam dokumen Bappenas tersebut, tidak ada satupun yang mengatakan bahwa rendahnya konsumsi susu menjadi penyebab anak Indonesia kekurangan gizi. Jadi, kita harusnya tidak perlu khawatir terhadap rendahnya konsumsi susu di Indonesia, atau jangan-jangan, ada lobi dari industri susu untuk mengangkat isu ini? Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, 80% susu di Indonesia adalah hasil impor. Jika Revolusi Putih berjalan, siapa yang akan diuntungkan? Peternak Sapi Perah atau justru Industri Susu? Dan, Revolusi Putih sebenarnya tidak perlu ada, justru sebaiknya mengedepankan Revolusi Hijau dan Pelangi, meningkatkan konsumi sayur-sayuran dan buah-buahan.

 

Balik lagi soal Pedomanan Makanan, lalu bagaimana nasib kita setelah 4 Sehat 5 Sempurna tidka dipakai lagi? Indonesia baru pada tahun 2009 secara resmi memasukkan istilah Gizi Seimbang pada UU Kesenatan No36/2009. Tahun 2014 ini Kementerian Kesehatan baru mengeluarkan Pedoman Gizi Seimbang. Prinsip Gizi Sseimbang terdiri dari 4 Pilar yang pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan secara teratur. Empat pilar tersebut adalah:

  1. Mengonsumsi makanan beragam
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih
  3. Melakukan aktifitas fisik
  4. Mempertahankan dan memantau berat badan ideal

 

Kementerian Kesehatan meluncurkan gambar untuk memudahkan promosi gizi seimbang. Ada 2 gambar yang dikenalkan, yaitu 1) Tumpeng Gizi Seimbang dan 2) Piring Makanku. Ini adalah gambar Tumpeng Gizi Seimbang.

Tumpeng Gizi Seimbang
Tumpeng Gizi Seimbang

 

Perhatikan, pada tingkat ke-3, Susu hanya menjadi salah satu bagian dari sumber protein. Susu tidak lagi menjadi hal yang istimewa, bukan penyempurna makanan.

 

Lalu ada juga gambar Piring Makanku, juga tidak ada gambar Susu. Perhatikan perbedaan antara Piring Makanku (versi Indonesia) dengan gambar MyPlate (versi Amerika).

Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku
Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku

 

Perhatikan, di konsep MyPlate, masih ada tulisan DAIRY (Produk Susu), sementara konsep PIRING MAKANKU sudah tidak ada susu dan minumnya cukup Air Putih.

Jadi, jika memang berniat ingin mengentaskan permasalahan gizi di Indonesia, maka ikutilah Gerakan 1000 HPK dan promosikan Pedoman Gizi Seimbang. Ganti Revolusi Putih dengan #IndonesiaMakanSayur.

 

Dokumen terkait:

  1. Pedoman Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/5013/8848/0466/PEDOMAN_SUN_10_Sept_2013.pdf
  2. FAQ tentang Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/3913/8848/0509/FAQ-Indonesia-13-10-03.pdf
  3. Laporan Nutrisi UNICEF: http://www.unicef.org/publications/files/Nutrition_Report_final_lo_res_8_April.pdf
  4. Pedoman Gizi Seimbang 2014: http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

 

Bahan Bacaan:

 

http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

http://health.kompas.com/read/2013/05/21/09390826/Konsep.Gizi.Seimbang.Pengganti.4.Sehat.5.Sempurna

http://sosok.kompasiana.com/2014/02/11/prabowo-revolusi-putih-631168.html

http://partaigerindra.or.id/2012/01/29/partai-gerindra-canangkan-revolusi-putih.html

http://tidar.or.id/app/berita/176-latar-belakang-informasi-revolusi-putih

http://www.kfindonesia.org/index.php?pgid=12&contentid=22

http://www.danonenutrindo.org/sejarah_gizi_seimbang.php

http://health.kompas.com/read/2011/01/22/15365715/Tinggalkan.4.Sehat.5.Sempurna.

http://engkani.blogspot.com/2011/07/sejarah-lengkap-perkembangan-gizi-ilmu.html

http://www.michaelfarms.com/pdfs/BriefHistoryOfNutritionGuidelinesInU.S.pdf

http://www.pcrm.org/search/?cid=1536

http://theincidentaleconomist.com/wordpress/what-the-heck-are-we-supposed-to-be-eating/

http://www.rivertea.com/blog/evolution-food-pyramid/

http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_USDA_nutrition_guides

http://www.foodpolitics.com/wp-content/uploads/caduceus_93.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8375951

http://www.nal.usda.gov/fnic/history/7551v.gif

http://www.emedicinehealth.com/nutrition_and_diet/page4_em.htm

http://www.cnpp.usda.gov/Publications/MyPyramid/OriginalFoodGuidePyramids/FGP/FGPBackgroundAndDevelopment.pdf

http://finance.detik.com/read/2013/11/07/173233/2406625/1036/ini-penyebab-ri-ketergantungan-80-susu-impor

http://www.tempo.co/read/news/2014/05/23/090579827/Indonesia-Masih-Impor-Susu-45-Juta-Liter-per-Hari

http://health.kompas.com/read/2012/11/14/14190612/Status.Terkini.Gizi.Anak.Indonesia

Comments

  1. nurlienda

    Pemikiran yang kritis, Saya selaku penggiat edukasi gizi sering menemukannya di lapangan, bahwa Indonesia yang terkenal loh jinawi, pada dasarnya tidak demikian… Hanya segelintir orang yang menikmatinya… Saatnya Indonesia Bangkit, dimulai dari diri sendiri dan dari hal kecil dahulu…
    Terima kasih bahasannya, membuka mata orang2 yang saat ini skeptis dengan masalah yang ada…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *