Khilafah menurut gue..

image

 

Gue bukan orang yang ahli agama, bukan juga orang yang ahli masalah politik atau pemerintahan, bukan juga orang yang paham sejarah Islam. Iyah, gue hanya segelintir orang awam yang gatel pengen komentar seputar Khilafah menurut pemahaman gue sendiri.

Tulisan ini juga bukan tulisan ilmiah dengan penelitian yang mendalam, tapi lebih pada keresahan otak gue terhadap gerakan untuk mewujudkan Khilafah Islamiyah.

Jelas, karena gue orang awam, pasti tulisan ini juga akan sangat mudah disanggah, gue juga enggak bertujuan untuk menggoyahkan keyakinan sebagian temen gue yang turut mendukung gerakan itu, tapi ini lebih pada pergolakan otak gue terhadap Khilafah Islamiyah itu sendiri.

Semacam resah sendiri gitu. Makanya gue tulis di blog gue.

Gue sengaja membaca “Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia; Indonesia, Khilafah dan Penyatuan Kembali Umat Islam” untuk sekedar memahami visi-misi mereka. Tapi membaca manifesto tersebut kesan pertama gue adalah, “kok ini semacam CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) yah?”, kaya mengagungkan masa lalu, sekedar mengenang romantisme kejayaan Islam zaman dahulu, semacam ga move-on gitu.

Khilafah dan Umat Islam menurut gue kaya permainan tebak-tebakan, semacam pertanyaan duluan mana sebenarnya telur sama ayam?

Mana yang perlu dipersiapkan dulu, Daulah Khilafah (Negara Islam) -nya kah? atau menyiapkan Umat Islam yang teguh menjalani syariat Islamnya dulu? Soekarno, pada tanggal 17 Agustus 1966, dalam pidato terakhirnya yang terkenal dengan JAS MERAH “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” seakan mengingatkan gue untuk juga jangan lupa terhadap perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam.

beberapa hari yang lalu, gue sempet ngetwit begini, “sebenarnya Rasulullah itu diperintahkan Allah untuk bikin negara Islam ga sih?” salah satu teman gue yang juga seorang dosen bilang sepanjang yang dia tau dan baca, dia ga menemukan perintah Allah untuk mendirikan negara Islam. Dari sedikit sejarah yang gue tahu tentang Nabi Muhammad SAW juga hampir ga pernah gue menemukan cerita tentang usaha Nabi membentuk sebuah Negara Islam (kalo salah silahkan dikoreksi, namanya juga manusia dan orang awam)

Nabi enggak diperintahkan Allah untuk membentuk partai politik.
Nabi enggak diperintahkan Allah untuk membentuk organisasi masyarakat (ORMAS).

Perlahan tapi pasti, Nabi menyebarkan Agama Islam dengan damai. Nabi membentuk masyarakat Arab menjadi masyarakat yang beradab menurut syariat Islam. Nabi menyiapkan umat-Nya. Nabi melatih umat-Nya agar mampu mengamalkan apa yang diperintahkan Allah SWT. Syariat Islam, karena keberhasilan dakwah Rasul, bukan lagi sebuah tuntutan yang harus diperjuangkan namun sudah menjadi nafas dan gerak masyarakat Arab. Sehingga kemudian jelas, semua aturan sosial dan sistem pemerintahannya pun sesuai dengan syariat Islam. Islam kala itu sudah mendarah daging dan menjadi nafas masyarakat Arab.

Analoginya begini, orang Jepang terkenal dengan budaya kerjanya yang disiplin, tepat waktu, cepat mengambil keputusan dan pekerja keras. Ketika banyak perusahaan Jepang masuk ke Indonesia, budaya kerja orang Jepang itu dibawa juga ke Indonesia, ada banyak pelatihan terkait dengan budaya kerjanya. Tapi di Jepang? enggak ada tuh pelatihan budaya kerja orang Jepang, kenapa? karena budaya kerja yang begitu itu udah jadi kebiasaan mereka sejak kecil, sejak didalam keluarga. Jadi yah ga perlu diajarin lagi. Nah, menurut gue ini yang jauh lebih penting, menjadikan Islam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, jadi bagian dari keseharian kita, ini yang – gue liat, bahkan sama gue sendiri – belum kejadian. Kalo Islam udah mengalir di darah daging kita, menjadi nafas dalam setiap gerak setiap orang, maka menurut gue ga perlu mendirikan Negara Islam bukan? Karena toh Islam sudah menjadi bagian dalam sistem sosial dan pemerintahan.

Pun begitu dengan Daulah Khilafah, menurut gue, terwujudnya Negara Islam atau Negara dengan Syariat Islam adalah hasil akhir – yang sementara ini , menurut gue, bahkan Nabi pun kayanya enggak kepikiran bikin negara waktu diangkat menjadi Rasul – dan menyiapkan umat Islam untuk kembali menjalankan Syariat Islam secara Kaffah adalah hal yang utama. Hal yang harusnya didahulukan (menurut gue).

Dulu sih mungkin mudah, karena masih ada Rasul, ada satu panutan, sumbernya jelas, Nabi Muhammad SAW. Tapi sekarang?

“Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”.  (HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu”

Dalam hadistnya, Nabi saja sudah memprediksi bahwa ummat-Nya akan terpecah menjadi 73 kelompok. Lalu kelompok mana yang harus kita ikuti? bukankah semua juga berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah? Apakah musti ada 73 negara? atau kita musti ikut sama negaranya HTI?

Menurut gue, jauh lebih penting menyiapkan umat Islam terlebih dahulu untuk kembali menegakkan Syariat Islam. Jauh lebih penting membuktikan bahwa Islam adalah Rahmat bagi seluruh Alam. Bukan dengan mendirikan Negara Islam lalu baru menegakkan Syariat Islam. Bayangkan, jika seluruh manusia bisa menerima Syariat Islam, bukankah Amerika bisa saja Undang-Undangnya sejalan dengan Islam, meski dipimpin oleh Non-Muslim misalnya?

Ga usah jauh-jauh deh, bukankah banyak dari kita yang pergi haji berkali-kali namun tetangga dekatnya masih kelaparan?

Bukankah masih banyak yang berhutang untuk pergi Umroh sementara familinya kesulitan membayar SPP sekolah anaknya?

Cmon, start with something small first will ya? Nabi aja memulai menyebarkan agama Islam dari lingkungan terdekatnya bukan?

Gue bukan enggak setuju dengan adanya Negara yang sistem pemerintahannya sesuai dengan Syariat Islam, gue jelas setuju banget. Tapi membentuk partai politik dan melakukan gerakan untuk menjatuhkan sebuah negara berdaulat lalu kemudian mendirikan Negara Islam adalah bukan hal yang bijak menurut gue.

Segala hal yang ambisius menurut gue enggak akan berakhir baik. Nabi aja enggak berambisi menjadi Kepala Negara Madinah bukan? Umat Islam mengalami kemunduran bukan karena enggak ada Negara Islam, tapi karena kebanyakan dari kita sendiri sudah menjauh dari Al-Qur’an dan Hadist. Zaman Nabi, mungkin sangat mudah menemukan orang yang hafal Al-Qur’an, tapi sekarang? hafal arti bacaan Shalat aja udah syukur kali.

Gue cuma mau bilang gini, gimana mendirikan rumah kalo elo enggak melatih tukang bangunannya? gimana caranya mendirikan rumah tapi cuma ngajak orang rame-rame untuk mendirikan rumah yang elo impikan?

Satukan umat Islam dengan mengajak setiap orang untuk memahami kembali ajaran Allah SWT. Mendirikan Negara Islam menurut gue bukan jalannya, kayanya juga enggak ada dari 25 Nabi yang diperintah Allah untuk mendirikan sebuah Negara bukan?

ah, ada terlalu banyak tanya yang masih belum gue temukan kenapa ada gerakan untuk mendirikan Daulah Khilafah?

Oh iya, buat yang belum tau, Hizbut Tahrir adalah partai politik Islam ideologis. politik adalah aktivitasnya, dan Islam sebagai ideologinya. Didirikan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada 14 Maret 1953 M.

Hizbut Tahrir adalah partai politik dengan skala Internasional, hadir di lebih 40 negara.

Pertanyaan sederhana gue, terakhir, gimana gue bisa yakin kalo Islam bisa berjaya dengan sebuah partai politik? Semacam mengkerdilkan tujuan mulia dari Agama Islam sebagai Rahmat bagi seluruh Alam.

Wallahu A’lam Bishawab. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan gue, aamiin.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *