Weaning With Love

Menyapih dengan cinta. Gue yakin enggak ada orang tua yang enggak mau menyapih dengan cinta. Gue sih ga nemu definisi baku tentang menyapih dengan cinta, menurut gue menyapih dengan cinta adalah sebuah proses kesepakatan antara ibu-ayah dan anak untuk berhenti menyusui. Gue lebih memilih untuk tidak memaksa anak untuk berhenti dengan memisahkan anak dari ibunya, memberikan pahit-pahitan atau hal lainnya, tapi gue lebih memilih memberhentikannya melalui proses penyadaran dengan komunikasi yang intensif. Gue ga bilang dengan cara memisahkan anak atau memberikan pahit-pahitan itu ga baik, itu sih balik lagi ke keputusan orang tua tentang bagaimana caranya menyapih. Gue hargai apapun itu. Menurut gue, memulai menyusuinya saja tanpa hal yang memaksa begitu, maka menyelesaikannya juga sebaiknya tanpa hal yang memaksa begitu. Tapi kadang kondisi berkata lain bukan?

Gue cuma mau berbagi beberapa langkah untuk mempermudah melakukan proses menyapih, tapi, ini ga bisa dilakukan hanya oleh si ibu dan si anak, butuh dukungan dari si ayah dan keluarga terdekat.

a)      Tetapkan Deadline

Ga perlu nunggu anak kita berusia 2 tahun baru mikir kapan menyapih, lebih baik semenjak usia 6 bulan atau 1 tahun udah mulai tentukan kapan anak akan disapih. Ini kesepakatan si ibu dan si ayah. Mau dibawah 2 tahun juga boleh, tapi memang sebaiknya memang meneruskan menyusui hingga anak berusia 2 tahun. Tapi sebenarnya proses menyapih bisa dimulai sebelum anak berusia 2 tahun. Nah, kalo lo sendiri kapan?

 

b)      Lakukan Sosialisasi

Sosialisasi ini penting agar anak dan keluarga paham bahwa kita sedang melakukan proses menyapih. Sosialisasi ini juga penting agar anak merasa dilibatkan dalam proses menyapih. Sosialisasi yang dimaksud adalah mengulangi informasi untuk berhenti menyusui jika usianya 2 tahun. Anak bukan ga paham loh, usia-usia segitu sebenarnya mereka sedang merekam semua perilaku dan perkataan kita. Setiap sebelum menyusui, bilang ke anak jika nanti pas usia 2 tahun enggak boleh nenen lagi, karena dia sudah besar. Ulangi selalu secara konsisten informasi ini ke anak, bisa gantian antara si ibu, ayah atau si nenek.

c)       Pembatasan Menyusui

Sambil terus melakukan sosialisasi, mendekati beberapa bulan tenggat waktu untuk menyapih, lakukan juga pembatasan menyusui. Jika sebelumnya bisa menyusui dimana saja dan kapan saja, kali ini perkenalkan anak dengan aturan kapan boleh menyusui. Aturan ini tahapan yang cukup penting menurut gue, hal ini agar anak paham bahwa ada aturan yang mulai berlaku untuk menyusui. Proses ini tentu akan mempermudah ketika saatnya menyusui benar-benar berhenti. Pembatasan ini pun ga berlaku ketat, bisa sangat fleksibel, tujuan sebenarnya bukan untuk benar-benar membatasi tapi lebih ke pemahaman dan penyadaran bahwa sudah ada aturan dan si anak enggak bisa semaunya menyusui. Meski setelah dengan berbagai rengekan tetap akan dikasih nenen. Misalnya, menyusui hanya boleh di tempat yang bersifat pribadi, contoh: menyusui hanya boleh di rumah, di mobil atau di ruang menyusui. Diluar tempat itu, lakukan penolakan dan berikan pengertian terlebih dahulu sebelum akhirnya tetap memberikan nenen. Ingat, tujuannya bukan benar-benar membatasi, tapi lebih mengajak dan menyadarkan si anak bahwa sekarang sudah ada aturan untuk menyusui. Ajak si Ayah untuk juga ikut serta dalam proses ini, jangan merasa terganggu dengan rengekan dan tangisan anak. Kalo gue sendiri, suka gangguin si anak dengan rebutan nenen, proses gangguin ini menurut gue berfungsi bahwa nenennya udah ga bisa semau dia.

Pada tahap ini lakukan juga pengurangan frekuensi menyusui, jam biasa menyusui bisa dialihkan dengan cemilan sehat atau jus segar buatan sendiri. Lakukan, agar secara tidak sadar, si anak enggak paham bahwa sedang ada pengaturan frekuensi menyusui. Jika biasanya sehari bisa 3-4 kali menyusui, maka bisa dikurangi hingga 2-3 kali.

d)      Hari H

Saat setelah menginjak hari-H berhenti menyusui sebenarnya ga perlu langsung bener-bener berhenti saat itu juga, tapi mulailah lakukan pembatasan seketat mungkin. Si Ayah perlu turun tangan pada proses ini, paling enggak untuk mengalihkan perhatian si anak dari menyusui, bisa dengan mengajak main atau ajak jalan-jalan keluar rumah, apapun silahkan dilakukan pokoknya hilangkan perhatian si anak dari menyusui. Meski sering pada akhirnya tetap menyusui. Ga apa-apa, namanya juga proses butuh waktu. Pada tahap ini sebaiknya menyusui hanya boleh dilakukan dirumah, pemilihan baju yang menyulitkan si ibu untuk menyusui di ruang publik bisa dipake, jadi si anak juga kesulitan buat merogoh-rogoh. Lakukan penolakan seketat mungkin sambil memberikan pengertian untuk tidak menyusui lagi. Pada minggu-minggu awal biasanya tetap berakhir dengan menyusui, ga apa-apa, yang penting saat ini si anak sudah harus berusaha sangat keras untuk bisa menyusui. Lambat laun, sampailah pada masa anak secara sadar sudah tidak menyusui kembali.

Dalam kasus gue, ini yang gue lakukan:

a.       Tetapkan Deadline

Gue dan istri sepakat kita akan menyapih ketika si anak berusia 2 tahun. Hal ini terkait dengan rencana hamil lagi, bukan ga boleh menyusui ketika hamil, tapi lebih karena istri ada riwayat prematur. Jadi ketika si anak berusia 1 tahun, kita sudah sepakat untuk menyapihnya pada usia 2 tahun.

b.      Lakukan Sosialisasi

Sosialisasi kita lakukan saat si anak berusia 1.5 tahun. Pada saat ini secara konsisten kita selalu bilang, “nanti 2 tahun udah ga nenen yah” atau “kamu kan pas 2 tahun udah gede, jadi ga boleh nenen lagi yah”. Informasi ini selalu dilakukan baik sebelum nenen, saat nenen maupun pas main atau dikala mau tidur. Ayah, Ibu, nenek dan anggota keluarga lainnya bisa turut membantu pada tahap ini.

c.       Pembatasan Menyusui

Di tahap ini gue selalu menganggu anak gue pas menyusui, baik dengan rebutan atau dengan menghalang-halangi sampe bikin dia kesel..hehehe. Menyusui pun mulai dibatasi, hanya boleh di rumah atau di mobil. Di mall sih udah ga doyan nenen kalo anak gue, pikirannya teralihkan dengen gemerlapnya pusat belanja itu *halah*.

d.      Hari H

Bener-bener berhenti menyusui kayanya pas usia dia 2 tahun 2 bulan lah. Pas usia 2 tahun udah bener-bener ketat, kita sih ga menemukan kesulitan berarti untuk menyapih,mungkin karena proses tadi dan juga karena kita udah memisahkan kamar tidur semenjak dia berusia 1 tahun. Kebiasaan menjelang tidur juga sudah dibentuk, biasakan – pas ayah ada dirumah sebelum anak tidur – si ayah juga turut bergabung ketika anak mau tidur, hal ini agar si anak enggak asing pas tidur hanya ditemani sang ayah. Hal ini agar anak mulai terbiasa untuk tidak nenen sebelum tidur. Setelah si anak berusia 2 tahun, setiap malam – beberapa kali gue sering pulang cepet untuk bantu proses ini – tidurnya udah sama gue, dan bukan sama istri.

Nah, implementasinya sih bisa bebas yah mau ngapain aja. Jelas cara gue menyapih dengan cara elo menyapih pasti beda. Tapi besaran tahapan tadi bisa digunakan untuk mempermudah. Cuma sekedar berbagi, semoga berguna.

Selamat menyapih dengan cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *