Alasan gue kenapa ikut cerewet soal ASI

Sampe sekarang sesungguhnya gue enggak begitu paham kenapa masalah ASI dan Susu Formula sangat begitu sensitif buat banyak orang. Satu sisi gue paham, enggak ada satupun orang tua di dunia ini yang ingin di cap sebagai orang tua yang buruk. But wait, pertanyaan kemudian adalah, siapa yang bilang kalo adalah orang tua yang memberikan Susu Formula ke anaknya dianggap buruk? Gue pun pernah memberikan anak gue Susu Formula, meski hanya berkisar 3 minggu.
Semua orang tua pasti punya alasan khusus kenapa harus memberkan Susu Formula, utamanya pada enam bulan pertama, meski akan lebih mantep kalau bisa sampai satu tahun bahkan hingga dua tahun.

Sebelum menikah dan punya anak, gue sama sekali enggak peduli sama yang namanya ASI. Oke, gue tahu tentang ASI. Air Susu Ibu. Gue juga tahu bahwa itu adalah asupan yang baik buat anak bayi. Tapi semua itu berubah begitu gue dan @adamayantie ikutan kelas ASI-nya @aimi-asi. Nambah pengen kasih ASI begitu anak gue lahir prematur. Semakin terbuka mata gue begitu kumpul sama beberapa #AyahASI dan baca beberapa referensi tentang ASI dan Susu Formula.

Dari yang gue paham sih, sebenarnya banyak orang yang hanya memberikan informasi yang benar tentang ASI. Gue juga enggak setuju kalo ada orang yang men-judge bahwa memberikan Susu Formula itu dianggap orang tua yang buruk. Kalaupun ada yang merasa “sensitif” dengan informasi ASI yang benar tersebut, harusnya cukup dijadikan pelajaran dan motivasi buat kemudian hari. Pengalaman gue memberikan ASI sama anak gue cukup seru, kita pernah sampai pada titik ingin menyerah, dan memutuskan memberikan Susu Formula sama anak kita. Beruntung waktu itu anak kita enggak terlalu suka dengan Susu Formula, enggak pernah habis, dan agak susah minumnya. Jadilah kita juga cari bantuan kesana kemari, dan minta dukungan secara virtual lewat twitter. And it works. From my humble opinion, ini cuma masalah komitmen dan masalah mau apa enggak mau. Kalau mau, pasti apapun diusahakan.

 

Nah, terus apa yang bikin gue harus ikutan cerewet tentang ASI?

Ini enggak lepas dari pengalaman gue sama anak gue yang lahir prematur. Istri gue, @adamayantie, pada waktu itu agak cukup kesulitan mengeluarkan ASI. Herannya, banyak orang terdekat kita yang gue anggap berpendidikan dan berpengalaman masih menyarankan untuk memberikan Susu Formula. Bahkan ada statement kalau Susu Formula itu udah yang paling baik karena dibuat oleh profesor-profesor. Sumpah! Gue cuma bengong dan mengelus dada. Agak enggak konsisten menurut gue. Satu sisi mereka menuntut memberikan yang terbaik buat anak gue, tapi satu sisi enggak mendukung kita untuk memberikan ASI. Gue bertanya-tanya, Gosh! Sedemikian dahsyatkah promosi Susu Formula hingga nempel di otak bahwa Susu Formula memang yang terbaik? Sekilas emang dahsyat, gimana enggak, promosi Susu Formula ada sejak gue kecil sampe sekarang. Setiap hari di bombardir dengan iklan Susu Formula yang bisa bikin otak cerdas lah, bisa bikin tinggi lah dan lain sebagainya. Pertanyaan gue selanjutnya adalah apa kabar sama ratusan juta penduduk Indonesia yang enggak well informed and well educated, kalo orang-orang terdekat gue aja bisa berpikiran seperti itu.

Iklan TV memegang peranan penting untuk menyebarluaskan promosi Susu Formula. Coba bayangin, tahun 2008 aja diperkirakan ada 45 juta kepala keluarga yang memiliki televisi (tempointeraktif.com), kalau pake asumsi satu keluarga terdiri dari empat orang (ayah, ibu dan dua anak) maka diperkirakan ada sekitar 180 juta orang indonesia yang menonton televisi. Itu berarti mendekati 75% penduduk yang menurut BKKBN pada tahun 2011 ini penduduk Indonesia akan mendekati angka 240 juta. Bisa kita bayangkan informasi yang sama mengenai Susu Formula ada di kepala kita semenjak kecil pada ratusan juta penduduk Indonesia hingga belasan tahun. Informasi yang tersimpan di kepala kita hanya butuh trigger untuk dipanggil sewaktu-waktu. Dari pengalaman gue, trigger-nya biasanya adalah ASI enggak cukup, ASI udah basi, ASI enggak keluar, dan lain sebagainya. Belum lagi dokter yang enggak ramah ASI, dan mendapat bayaran dari perusahaan Susu Formula.

Gue sih enggak mempermasalahkan sama orang perkotaan yang sudah well informed yah, tapi bagaimana dengan puluhan juta penduduk Indonesia yang rendah akan akses informasi. Sialnya, informasi satu-satunya yang mereka dapet adalah melalui iklan televisi. Informasi ASI tenggelam bersama riuhnya iklan Susu Pertumbuhan di TV, belum lagi sesaknya rak-rak toko di kota dan di desa dengan berbagai macam merek Susu. Lalu kemana informasi tentang ASI. Hanya SBY dan Tuhan yang tahu.

Segimana gencarnya sih promosi Susu Formula itu?

Belanja iklan dari sektor telekomunikasi terus bertumbuh, belanja iklan di sektor minuman pun terus bertambah secara konsisten. Sejak 2006 hingga 2010 belanja iklan di sektor minuman sebesar Rp 7 triliun. Sepanjang 2010, iklan susu pertumbuhan menjadi penyumbang utama belanja iklan media untuk kategori minuman. Senior Manager Corporate Communications & Marketing Nielsen, Kikie Randini, mengatakan produk susu pertumbuhan menjadi pengiklan terbanyak dalam kategori minuman pada 2010 berkorelasi dengan angka kelahiran di Indonesia. “Pada 2010, angka kelahiran bayi cukup tinggi,” kata dia (tempointeraktif.com).

Tahun 2010, belanja iklan minuman mencapai Rp 7,03 miliar, naik 33% dari tahun 2009 yang sebesar Rp 5,28 miliar. Managing Director Nielsen Audience Measurement Ira Pratignyo bilang, jenis susu pertumbuhan menjadi kontributor terbesar belanja iklan tahun lalu mencapai 18% dari total belanja iklan di sektor minuman. Minuman susu pertumbuhan berbelanja iklan tahun lalu hingga Rp 1,2 miliar.

Berdasarkan hasil survei Nielsen, iklan susu khususnya susu pertumbuhan pada kuartal I tahun 2011 ini meningkat 98% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja iklan susu pertumbuhan pada kuartal I 2011 mencapai Rp 497 miliar, naik dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 251 miliar. Produk susu pertumbuhan yang banyak beriklan antara lain produk susu Nutri*** Roy** 3 dan susu SG*.

Angka-angkanya mengerikan yah, kisaran miliran dan triliunan.

Ledia Hanifa, anggota Komisi IX DPR RI dalam rapat kerja dengan Sekretariat jendral Kementrian Kesehatan RI Senin, 18 Januari 2010 mengatakan “Harus dipertanyakan mengapa anggaran promosi kesehatan pada Tahun anggaran 2010 mengalami penurunan menjadi 96,8 M dari 117,49 M di tahun 2009. Ini belum menunjukkan keseriusan pemerintah untuk merubah paradigma sehat kita dari kuratif bergeser ke promotif preventif”, seperti dikutip www.promosikesehatan.com

Anggaran ini turun dengan asumsi upaya promotif lebih banyak dilakukan oleh daerah. Dengan demikian sangat dituntut komitmen kepala daerah untuk memfokuskan pada upaya promotif . Padahal, dalam tayangan MataNajwa tadi malam (14 September 2011) disebutkan bahwa ada 125 daerah yang memiliki 60% beban belanja APBD-nya untuk gaji pegawai. Lalu apa kabar dengan anggaran pembangunan? Apa kabar juga dengan promosi kesehatan khususnya ASI?

Dana yang dianggarkan untuk promosi kesehatan pada 2008 hanya Rp80 miliar dan pada tahun-tahun sebelumnya nilainya tidak jauh berbeda. Bandingkan dengan belanja iklan susu pertumbuhan pada kuartal I 2011 mencapai Rp 497 miliar. Dalam hitungan kuartal, perusahaan susu telah menghabiskan Rp 497 miliar untuk promosi Susu Formula, dan pemerintah hanya mengalokasikan kurang lebih Rp 80 miliar dalam setahun untuk promosi kesehatan. Gosh! Alokasi anggaran promosi kesehatan di daerah pun sangat terbatas, bahkan ada kota/kabupaten yang sama sekali tidak mengalokasikan anggaran untuk itu.

Dalam laporan FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) terkait dengan RAPBN-P 2010 disebutkan bahwa anggaran promosi kesehatan untuk Penyuluhan Peningkatakan Kesehatan Anak hanya sebesar Rp 1.2 miliar dan anggaran untuk Kampanye Peningkatan Kesehatan Ibu adalah sebesar Rp 1.7 miliar. Asumsinya, promosi tentang ASI ada didalam mata anggaran ini.  Dalam laporannya FITRA juga sebutkan bahwa anggaran untuk penurunan kematian ibu dan anak sebetulnya hanya sebesar Rp. 346.5 miliar, dan anggaran ini dialokasi untuk pembelian obat bagi penambahaan gizi, kesehatan ibu, dan anak. Tetapi, alokasi anggaran ini tidak cukup, sebab Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan khususnya gizi buruk.Tercatat 30% dari 110 juta atau sekitar 33 juta balita di Indonesia mengalami gizi buruk. Program perbaikan gizi masyarakat khususnya penanganan masalah kurang dan gizi buruk pada ibu hamil dan menyusui, bayi dan anak balita hanya dialokasikan sebesar Rp 345.5 milyar. Asumsinya dengan alokasi sebesar Rp 345.5 milyar untuk 33 juta balita penderita kasus gizi buruk, hanya dialokasikan Rp 10.500/kasus balita/tahun untuk perbaikan gizi belum menjamah pada persoalan bumil dan menyusui. Jika melihat target pencapaian malnutrisi anak tahun 2015 sebesar 3,3% gizi buruk dan 18% gizi kurang dapat diyakini akan sulit tercapai karena sampai saat ini angka pencapaian masih diposisi tinggi yaitu 8,8% Gizi buruk dan 28% gizi kurang.

Sampe sini, gue udah enggak mau berharap pemerintah mau ikutan peduli sama promosi ASI. Paling tidak untuk menjadi penyeimbang informasi tentang Susu Formula. Lalu apa salahnya jika banyak bayi atau anak-anak yang mengkonsumsi Susu Formula? Enggak ada yang salah kok, itu kan pilihan, enggak ada satu orang pun yang bisa memaksakan itu. Tuhan aja enggak memaksa kita memeluk suatu agama kan?

Permasalahannya begini. WHO telah mengeluarkan panduan untuk menyiapkan Susu Formula di rumah. Panduan ini cukup jelas dan ketat. Bisa kunjungi websitenya WHO untuk mendapatkan panduan ini, atau cukup klik link ini http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/pif2007/en/.

Secara umum panduan WHO dalam menyiapkan Susu Formula ini memberikan syarat bahwa seseorang harus memiliki akses ke lingkungan yang baik, air bersih dan memiliki alat steril botol. Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia. Media Indonesia (2005) menyebutkan bahwa sekitar 168 juta penduduk Indonesia (52-60%) belum mendapatkan akses terhadap air bersih dan sanitasi. Wikipedia menyebutkan bahwa Diare menjadi penyebab kematian kedua terbesar bagi anak-anak dibawah lima tahun di Indonesia.

Jadi kalau mau kasih Susu Formula buat gue sih terserah orang tuanya. Tapi kalau cara menyiapkan susunya aja udah enggak bener, lalu bagaimana nasib anaknya? Bukankah harapannya Susu Formula itu bisa menggantikan ASI. Kalau tidak sesuai takaran dan bukan dengan air yang bersih, lalu apa yang bisa diserap oleh si bayi dan anak-anak. Hanya air dan gula?

Gue beruntung punya akses untuk dapetin informasi seputar ASI, beruntung gue bisa dapetin bantuan dengan mudah ketika @adamayantie kesulitan menyusui dan mengeluarkan ASI. Gue jauh lebih beruntung. Tapi masih banyak saudara-saudara kita yang enggak punya akses itu.

Itu kenapa, menurut gue, ASI enggak cukup diurus oleh ibu-ibu yang tergabung didalam @aimi_asi. Itu kenapa gue dan beberapa #AyahASI cukup intens bertemu dan mencoba insiasi sebuah gerakan untuk mengenalkan ASI kepada para Ayah. Karena ayah akan menjadi benteng terakhir dalam proses menyusui.

Bukan! Gue bukannya enggak setuju sama Susu Formula, tapi promosi mereka perlu dapet tandingan. Agar banyak masyarakat yang dapet informasi seputar ASI juga. Gue sih enggak mau berharap dari pemerintah, apa yang bisa kita harapkan dari sekitar 4.7 juta PNS di negeri ini?

@aimi_asi sudah memulai inisiatif itu. Kini saatnya kita ikut bergabung.

Bahan bacaan:

http://www.tempo.co.id/hg/ekbis/2008/05/29/brk,20080529-123887,id.html

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/07/05/lnua4p-prediksi-bkkbn-2011-penduduk-indonesia-241-juta-jiwa

http://industri.kontan.co.id/v2/read/1296631700/58049/Iklan-susu-pertumbuhan-terbesar-di-2010-dalam-belanja-iklan-sektor-minuman

http://lifestyle.kontan.co.id/v2/read/1304420749/66438/Belanja-iklan-produk-susu-di-kuartal-1-2011-melonjak-98

http://www.investor.co.id/home/belanja-iklan-tumbuh-20-capai-rp-156-triliun/11114

http://www.promosikesehatan.com/?act=news&id=564

http://nasional.kompas.com/read/2008/09/18/19174594/anggaran.promosi.kesehatan.minim

http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/pif2007/en/

http://www.seknasfitra.org/index.php?option=com_remository&Itemid=67&func=fileinfo&id=14&lang=in

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *